Konteks, Masalah, dan Kesenjangan Riset
Penelitian ini berangkat dari pandangan bahwa bencana bukan sekadar fenomena alam, melainkan hasil interaksi kompleks antara bahaya, kondisi lingkungan, aktivitas manusia, kerentanan, dan kapasitas. Namun, hingga kini belum ada model empiris multidimensional yang menjelaskan bagaimana pengalaman masyarakat, baik ekologis, sosial, maupun kelembagaan, membentuk literasi kebencanaan di Aceh.

Dari kesenjangan tersebut, tim merumuskan lima pertanyaan penelitian: apa saja dimensi literasi kebencanaan, bagaimana peran pengalaman sosial ekologis, bagaimana hubungan literasi dengan resiliensi, apakah model konsisten di berbagai konteks wilayah, dan bagaimana temuan diterjemahkan menjadi instrumen dan kebijakan. Tujuannya adalah mengidentifikasi pengalaman masyarakat, menguji struktur multidimensional literasi, menguji hubungan literasi dan resiliensi, membandingkan Aceh Utara dan Aceh Tamiang, menghasilkan model empiris, serta menerjemahkannya ke dalam modul dan policy brief.
Anatomi Literasi Kebencanaan
Tim merumuskan Aceh Disaster Literacy yang terdiri atas enam komponen. Pertama, pemahaman kausalitas, yaitu hubungan antara proses alam, aktivitas manusia, dan kerentanan lingkungan. Kedua, pemahaman risiko, meliputi pengenalan bahaya, tingkat keterpaparan, dan peringatan dini. Ketiga, tindakan, berupa kesiapsiagaan praktis, perlengkapan, evakuasi, dan respons kolektif. Keempat, resiliensi, yaitu pemanfaatan dukungan komunitas, penerapan pengetahuan lokal, dan semangat membangun kembali dengan lebih baik. Kelima, inklusi, yaitu pemenuhan akses, perlindungan, dan partisipasi kelompok rentan seperti anak, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas. Keenam, kesehatan mental dan dukungan psikososial (MHPSS), mencakup deteksi tekanan psikologis, dukungan psikososial awal, dan rujukan kesehatan mental.

Desain Penelitian: Dari Eksplorasi ke Pengujian
Penelitian menggunakan desain mixed methods sekuensial eksploratori. Alurnya dimulai dari teori besar, dilanjutkan wawancara semiterstruktur, penajaman konstruk, penyusunan kuesioner, uji psikometrik, hingga integrasi model.
Tahap kualitatif menjawab pertanyaan bagaimana dan mengapa, melalui wawancara mendalam dengan tokoh agama dan adat, pemerintah daerah, sekolah, penyintas, dan kelompok rentan. Analisis tematik memetakan tiga domain: sumber pengetahuan (pengalaman langsung, keluarga, sekolah, pemerintah, agama, pengetahuan lokal, dan adat), literasi bencana, serta kapasitas dan resiliensi (kohesi sosial, tata kelola, keragaman, pemulihan, membangun kembali lebih baik, dan ketangguhan bencana).

Tahap kuantitatif menjawab pertanyaan seberapa kuat dan bagaimana polanya, melalui kuesioner berskala besar. Konstruk utamanya meliputi kausalitas, risiko, tindakan, resiliensi, inklusi, MHPSS, ketangguhan sosial budaya, dan ketangguhan bencana, dengan konteks pembentuk berupa pengalaman ekologis, sosial budaya, tata kelola, dan pengalaman bencana. Literasi kausalitas diukur dengan tes pengetahuan, jawaban benar bernilai satu dan jawaban salah, tidak yakin, atau tidak tahu bernilai nol. Konstruk lainnya menggunakan skala respons satu sampai lima. Modul kelembagaan adat, agama, dan institusi dianalisis terpisah dari skor individu.
Pengujian data menggunakan serangkaian analisis, yaitu analisis faktor eksploratori dan konfirmatori, analisis faktor konfirmatori tingkat tinggi, uji invariansi pengukuran, pemodelan persamaan struktural (SEM), serta analisis Rasch dan IRT untuk tes literasi kausalitas. Uji invariansi pengukuran penting untuk memastikan model tetap konsisten di dua wilayah yang berbeda karakter: Aceh Tamiang dengan konteks daerah aliran sungai dan banjir, serta Aceh Utara dengan dinamika wilayah dan tata kelolanya.
Rencana Kegiatan Lapangan
Kegiatan lapangan dijadwalkan pada 1 hingga 10 Oktober 2026. Tim berangkat dari Jakarta pada 1 Oktober melalui Medan menuju Langsa, lalu pada 2 Oktober menyebarkan kuesioner kepada mahasiswa, dosen, dan pimpinan IAIN Langsa.
Pada 3 Oktober, tim bergerak ke Lhokseumawe untuk wawancara dan penyebaran kuesioner kepada masyarakat Aceh Utara, khususnya kelompok rentan dan korban bencana. Kegiatan berlanjut dengan tokoh agama dan tokoh adat pada 4 Oktober, sivitas Universitas Malikussaleh pada 5 Oktober, dan diskusi dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara pada 6 Oktober. Diskusi ini melibatkan dinas pendidikan, dinas sosial, Kementerian Agama, BPBD, serta sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, hingga siswa SMP, MTs, SMA, MA, SMK, dan pesantren.
Pada 7 Oktober, tim berpindah ke Kuala Simpang untuk berdiskusi dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dengan unsur yang serupa. Wawancara dan penyebaran kuesioner kepada masyarakat Aceh Tamiang dilakukan pada 8 Oktober, disusul tokoh agama dan tokoh adat pada 9 Oktober. Tim kembali ke Jakarta melalui Medan pada 10 Oktober.
Empat Luaran Utama
Penelitian ini diarahkan dari pengukuran menuju implementasi melalui empat luaran. Pertama, Aceh Disaster Literacy Scale, instrumen psikometrik tervalidasi untuk mengukur literasi kebencanaan dan resiliensi. Kedua, model empiris yang menjelaskan hubungan pengalaman, literasi, tindakan, dan resiliensi. Ketiga, tiga modul, yaitu modul sekolah dan universitas untuk peserta didik dan pendidik, modul masyarakat untuk keluarga, komunitas, kelompok rentan, dan relawan, serta modul pemerintah daerah untuk pemda, BPBD, gampong, dan lembaga. Keempat, policy brief yang menerjemahkan bukti penelitian menjadi rekomendasi kebijakan dan pembelajaran pascabencana.

Ramadoni menegaskan bahwa literasi kebencanaan menjadi penghubung utama antara pengalaman masyarakat, tindakan, dan resiliensi. Desain mixed methods memberi keunggulan karena mekanisme lokal dapat dipahami sekaligus struktur model diuji secara empiris. Instrumen dan modul yang dihasilkan diharapkan menghubungkan pendidikan, kapasitas komunitas, dan tata kelola yang inklusif, sementara policy brief menjadi jembatan antara bukti penelitian dan keputusan kebijakan dalam pemulihan pascabencana di Aceh.

Ramadoni merupakan Peneliti pada Pusat Riset Pendidikan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan alumni program doktoral National Dong Hwa University, Taiwan. Kepakarannya meliputi pengembangan kurikulum, pengembangan model dan desain pembelajaran, inovasi pembelajaran, teknologi pendidikan, pengembangan bahan ajar, evaluasi pembelajaran, serta penelitian dan pengembangan (R&D) di bidang pendidikan. Ia aktif melakukan penelitian dan pengembangan inovasi pendidikan yang berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran, kompetensi peserta didik, dan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masa depan. Email: ramadoni@brin.go.id

Leave a Reply