Dr. Ir. Abdullah: Beton Ringan Lebih Tahan Gempa dan Cepat Dibangun

Hidup di Atas Cincin Api

Indonesia berada di jalur Cincin Api, kawasan dengan aktivitas gempa dan gunung api paling tinggi di dunia. Karena itu, bangunan di Indonesia harus dirancang untuk menghadapi guncangan. Salah satu prinsip sederhana bangunan tahan gempa adalah bobotnya ringan, sebab semakin berat bangunan, semakin besar gaya yang diterimanya saat gempa.

Di sisi lain, kebutuhan bahan bangunan yang terus meningkat mendorong pengambilan pasir, batu, dan kayu secara besar besaran. Akibatnya, sungai rusak dan hutan semakin berkurang.

Apa Itu Beton Ringan Busa?

Beton ringan busa pada dasarnya adalah campuran semen, air, dan busa. Busa inilah yang membuat beton jauh lebih ringan dibanding beton biasa. Pembuatannya membutuhkan tiga alat utama, yaitu mesin pembuat busa, kompresor udara, dan pengaduk beton.

Sumber: Presentasi Dr. Abdullah (9/7/2026)

Campuran ini dapat diperkuat dengan agregat ringan, yaitu bahan pengisi yang bobotnya kecil. Sumbernya melimpah di Indonesia. Ada yang alami, seperti batu apung dan pozolan dari gunung api. Ada pula yang berasal dari sisa industri dan pertanian, seperti cangkang sawit, abu sekam padi, dan abu terbang dari pembakaran batu bara. Limbah yang biasanya dibuang justru bisa diolah menjadi bahan bangunan.

Riset Panjang di USK

Penelitian di USK mencakup beton busa maupun beton ringan dengan campuran agregat, serta penerapannya pada gedung, jalan, dan jembatan. Masih terbuka peluang pengembangan untuk bangunan air, seperti pelindung tebing sungai, bangunan tepi pantai, hingga struktur terapung.

Sumber: Presentasi Dr. Abdullah (9/7/2026)

Tim juga merancang sendiri mesin pembuat busa dan bahan pembentuk busanya. Hasil uji coba menunjukkan keduanya sudah mampu menghasilkan busa, dan seluruh komponennya tersedia di pasar lokal. Dengan begitu, teknologi ini tidak bergantung pada peralatan impor. Meski demikian, alat tersebut masih perlu disempurnakan dan diuji ketahanannya untuk produksi jangka panjang.

Sudah Terbukti di Lapangan

Beton ringan busa telah diterapkan pada berbagai bangunan nyata. Pada 2006 hingga 2009, beton ringan digunakan untuk bata busa. Teknologi ini juga dipakai pada gedung di Jalan T. Nyak Arief, Banda Aceh, dan bangunan Labschool USK.

Sumber: Presentasi Dr. Abdullah (9/7/2026)

Dalam bentuk pracetak, yaitu panel yang dicetak lebih dulu lalu dipasang di lokasi, beton ringan digunakan untuk lantai sejak 2010 hingga 2024, lantai jembatan pada 2012, serta rumah dan gedung pada 2020. Panel pracetak ini telah melewati berbagai uji kekuatan, termasuk uji benturan dan uji lentur berdasarkan standar Inggris.

Sumber: Presentasi Dr. Abdullah (9/7/2026)

Bukti paling meyakinkan terlihat dari rumah yang sudah lama berdiri. Rumah beton ringan yang berusia 8 dan 15 tahun masih dalam kondisi baik.

Keunggulan Rumah Panel Beton Ringan

Rumah dari panel pracetak beton ringan memiliki sejumlah nilai tambah. Bobotnya ringan, setiap panel kurang dari 80 kilogram, sehingga lebih aman saat gempa dan tidak memerlukan alat berat seperti crane untuk memasangnya.

Panel juga bisa dibongkar pasang karena disambung dengan baut, sehingga rumah dapat dipindahkan atau diubah susunannya. Produksi bisa dilakukan langsung di lokasi dengan mobil alat produksi, tanpa perlu mengangkut panel dari tempat jauh.

Setiap panel diperkuat rangka dan anyaman besi sehingga kokoh dan lebih tahan retak. Bahan bakunya ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah industri dan pertanian. Produksinya cepat dan mutunya terjaga karena dicetak di bawah atap. Prosesnya pun banyak melibatkan tenaga kerja, sehingga membuka lapangan kerja bagi warga setempat.

Keunggulan yang paling menonjol adalah kecepatan membangun. Satu rumah dapat berdiri dalam 5 sampai 10 hari dengan hanya 3 pekerja.

Rumah Tumbuh dan Modular

Tim USK juga merancang konsep rumah tumbuh, yaitu rumah yang bisa dimulai dari ukuran kecil lalu diperluas sesuai kebutuhan dan kemampuan pemiliknya. Tersedia beberapa tipe, mulai dari tipe 21, tipe 36, hingga tipe 45. Karena panelnya modular, penambahan ruang dapat dilakukan dengan mudah tanpa membongkar bangunan lama.

Sumber: Presentasi Dr. Abdullah (9/7/2026)

Relevansi untuk Pemulihan Pascabencana

Teknologi hunian yang aman, cepat, murah, dan ramah lingkungan sebenarnya sudah tersedia dan teruji di Aceh. Dalam pemulihan pascabencana, rumah panel beton ringan dapat mempercepat penyediaan hunian bagi penyintas, membuka peluang kerja bagi warga lokal, sekaligus memanfaatkan limbah pertanian seperti cangkang sawit dan sekam padi yang melimpah di Sumatera.


Dr. Ir. Abdullah, M.Sc. adalah dosen Jurusan Teknik Sipil, Universitas Syiah Kuala (USK), dengan jabatan akademik Lektor Kepala. Ia menempuh pendidikan sarjana Teknik Sipil di USK, lalu meraih gelar master di bidang Structural Engineering dari National University of Singapore dan gelar doktor di bidang yang sama dari Tokyo Institute of Technology, Jepang, pada 2001. Setelah itu, ia menjalani program pascadoktoral Japan Society for the Promotion of Science (JSPS) di Tokyo Institute of Technology dan menjadi research fellow di National University of Singapore. Saat ini ia menjadi Tim Ahli Bangunan Gedung di Pemerintah Kota Banda Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, serta Ketua Komda Aceh Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI).


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *