Pak Abdul Kadir menjelaskan bahwa diseminasi perahu fiberglass ini dijalankan melalui empat tahapan utama. Pertama, pemilihan bentuk kapal yang disesuaikan dengan kondisi daerah setempat, mencakup identifikasi kebutuhan nelayan, penyesuaian bentuk dan ukuran dengan kondisi perairan lokal, serta pemilihan desain yang tepat dan fungsional. Kedua, pelatihan pembuatan kapal kepada nelayan setempat, meliputi pengenalan material dan peralatan, praktik pembuatan kapal fiberglass, teknik finishing, serta cara perawatan dan perbaikan. Ketiga, penyerahan kapal kepada nelayan agar siap digunakan untuk kegiatan melaut. Melalui tahapan ini, nelayan tidak hanya mendapatkan kapal fiberglass, tetapi juga memperoleh ilmu cara membuat dan merawat kapal tersebut secara mandiri.
Lokasi Pelaksanaan
Program ini dilaksanakan di enam lokasi selama tiga tahun, dengan sebaran tiga lokasi di Aceh, dua lokasi di Sumatera Utara, dan satu lokasi di Sumatera Barat. Berdasarkan data Kementerian PPN/Bappenas, jumlah kapal nelayan yang rusak akibat bencana tercatat sebanyak 3.210 kapal di Aceh, 369 kapal di Sumatera Utara, dan 33 kapal di Sumatera Barat. Untuk tahap awal, program ini menargetkan pembuatan sembilan kapal di Aceh, enam kapal di Sumatera Utara, dan tiga kapal di Sumatera Barat.
Target Capaian Kegiatan
Pak Abdul Kadir memaparkan target capaian program selama tiga tahun pelaksanaan. Pada Tahun I periode 2026-2027, target produk teknologi meliputi enam desain kapal tradisional, satu desain inovasi kapal fiberglass, satu cetakan kapal fiberglass, dan tiga prototipe kapal fiberglass, disertai satu paket pelatihan pembuatan kapal, satu artikel karya ilmiah, dan satu desain industri kapal fiberglass sebagai kekayaan intelektual.
Target ini meningkat pada Tahun II periode 2027-2028, dengan dua desain inovasi kapal fiberglass, dua cetakan, dan enam prototipe kapal, disertai dua paket pelatihan, dua artikel, dan dua desain industri. Pada Tahun III periode 2028-2029, target ditingkatkan lagi menjadi tiga desain inovasi, tiga cetakan, dan sembilan prototipe kapal fiberglass, dengan tiga paket pelatihan, tiga artikel, dan tiga desain industri kapal fiberglass.
Enam Tahapan Teknis Kegiatan
Secara teknis, kegiatan ini dijalankan melalui enam tahapan. Tahap pertama adalah survei pemilihan tipe perahu penangkap ikan tradisional sebagai desain dasar, dengan target menghasilkan desain kapal yang sesuai kondisi daerah setempat. Tahap kedua adalah pembuatan cetakan berdasarkan desain dasar, meliputi pembacaan gambar, pemasangan rangka, hingga cetakan siap pakai, dengan target peserta mampu membaca gambar desain kapal.
Tahap ketiga adalah praktik pencetakan perahu fiberglass bersama nelayan, mencakup pemasangan lapisan, pengangkatan perahu, dan pemasangan rangka, dengan target peserta memiliki kemampuan mencetak perahu. Tahap keempat adalah pemasangan mesin dan peralatan, meliputi pemasangan mesin, pemasangan peralatan, hingga peluncuran kapal, dengan target peserta mampu memasang dan merawat mesin.
Tahap kelima adalah uji coba operasional, mencakup uji coba kebocoran, daya apung, dan kecepatan kapal, dengan target kapal stabil dan beroperasi secara optimal. Tahap keenam adalah serah terima kapal kepada kelompok nelayan pengguna, dengan target akhir peserta mampu membuat dan memelihara perahu fiberglass secara mandiri serta mengembangkannya sesuai kebutuhan.
Hasil Diseminasi
Pak Abdul Kadir menyampaikan bahwa diseminasi perahu fiberglass ini telah dilaksanakan di 33 lokasi di Indonesia. Dokumentasi kegiatan tersebut telah diunggah ke YouTube sebanyak 17 video, sebagai bahan pembelajaran dan referensi bagi masyarakat maupun pihak lain yang ingin mereplikasi program serupa.
Melalui program ini, Pak Abdul Kadir menegaskan komitmen BRIN untuk tidak hanya menyediakan kapal pengganti bagi nelayan yang kehilangan sarana melaut akibat bencana, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan membuat dan merawat kapal fiberglass secara mandiri, sejalan dengan semangat membangun kembali yang lebih baik dan lebih tangguh.

Leave a Reply