Perubahan iklim tidak hanya menghadirkan banjir, kekeringan, dan badai yang makin kuat. Ia juga memaksa jutaan orang meninggalkan tempat tinggalnya. Buku Spatialities of Displacement in Times of Climate Change (2026), yang disunting oleh Francesca Ceola, Qusay Amer, Juliana Canedo, dan Philipp Misselwitz, mengajak pembaca melihat persoalan ini dari sudut pandang mereka yang terusir. Salah satu tulisan di dalamnya datang dari Dr. Irina Rafliana, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang mengangkat kisah penyintas tsunami Mentawai 2010 di permukiman relokasi Pulau Pagai Utara.
Sekilas tentang Buku
Buku ini berangkat dari keprihatinan bahwa dunia belum siap menghadapi gelombang pengungsian akibat krisis iklim. Bagi banyak orang, skenario terburuk perubahan iklim bukan lagi ramalan, melainkan kenyataan hari ini. Perubahan iklim mendorong perpindahan penduduk bukan hanya lewat bencana secara langsung, tetapi juga dengan menambah tekanan pada kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang sudah rapuh. Di saat yang sama, perbatasan antarnegara makin diperketat, solidaritas global makin menipis, dan kamp atau tempat penampungan sering hanya menjadi solusi sementara.

Alih-alih berfokus pada penyebab perpindahan, buku ini menyoroti bagaimana orang yang terusir bertahan, beradaptasi, pindah, atau melawan. Tempat tempat pengungsian dilihat sebagai ruang tempat lahirnya cara hidup baru di tengah ketidakpastian. Kajiannya mencakup banyak wilayah, mulai dari permukiman padat di Dhaka, Bangladesh, lembah pertanian di Lebanon, perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko, Alexandria di Mesir, Panama, Kolombia, hingga hutan hujan Amazon.
Buku ini dibagi dalam tiga bagian: tanah yang bergeser, air yang tak menentu, dan jalur pelarian. Setiap tulisan diberi kiasan ruang untuk membantu pembaca menangkap polanya. Tulisan Irina Rafliana masuk dalam bagian tanah yang bergeser, dengan kiasan ruang yang dipinjam.
Peneliti sebagai Orang Asing
Irina pertama kali datang ke Mentawai sekitar tiga bulan setelah tsunami 25 Oktober 2010, bersama tim peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Jepang. Sejak itu ia kembali setidaknya setahun sekali, bekerja bersama pemerintah daerah dalam pengurangan risiko tsunami. Pada 2014, ia tinggal lebih lama untuk penelitian tesis magisternya.

Masyarakat Mentawai menyebut orang luar seperti dirinya sasareu, yaitu orang asing yang datang dan pergi. Irina menyadari posisinya tidak netral. Ia datang sebagai bagian dari lembaga negara, dengan kemudahan bergerak dan akses ke ruang pemerintahan. Ia juga membawa darah Minang, sementara hubungan antara masyarakat Minang di daratan Sumatera dan masyarakat Mentawai menyimpan sejarah yang tak mudah.
Dari kesadaran inilah ia menawarkan pendekatan yang disebutnya keterasingan yang disadari. Peneliti tidak berdiri di luar, mengamati warga sebagai objek, melainkan ikut berada di dalam relasi kuasa yang hidup dalam keseharian di pengungsian itu sendiri.
Dari Pesisir ke Tengah Hutan
Warga Dusun Sabeugunggung dulu tinggal hanya sekitar 20 meter dari bibir pantai. Tsunami menyapu habis dusun mereka. Setelah bencana, mereka tinggal di tenda, lalu di hunian sementara berupa barak kayu lapis tipis di lahan milik orang lain selama tiga tahun. Kemudian mereka dipindahkan lebih jauh ke pedalaman, sekitar 12 sampai 14 kilometer dari pesisir, ke lokasi hunian tetap yang ditetapkan pemerintah provinsi.
Namun, lokasi baru itu berada di tanah marga lain dan kawasan hutan produksi, tanpa kejelasan hak atas tanah. Dalam adat Mentawai, setiap jengkal tanah diakui kepemilikannya melalui kesepakatan lisan. Tanpa sertifikat, warga bisa diminta pindah kapan saja. Warga Sabeugunggung sendiri sejak lama berstatus sitoi, pendatang yang tinggal di wilayah marga lain. Relokasi justru menambah lapisan kerentanan mereka.
Kondisi di permukiman baru pun jauh dari layak. Rumah rumah belum selesai, menunggu seng dan bahan bangunan yang dijanjikan. Tidak ada listrik, air bersih sangat langka, dan warga mencuci di genangan air hujan. Dana pembangunan rumah menyusut karena terpakai untuk membeli makanan, sebab kebijakan saat itu mendahulukan penyelesaian rumah sebelum bantuan ekonomi. Warga menyebut kondisi ini sebagai tsunami masalah yang baru.

Meminjam Ruang, Kenangan, dan Waktu
Selama hampir sepekan, Irina dan rekannya, Neneng Shusilawati, menumpang di rumah Leisa Saogo, guru sekaligus kepala dusun yang memimpin protes warga atas lambatnya penanganan relokasi. Keluarga Leisa bahkan pindah tidur ke warung kecil mereka agar tamu bisa memakai kamar. Bagi Irina, keramahan ini terasa canggung. Tamu dan tuan rumah sama sama tidak berada di rumah sendiri. Mereka bertemu di ruang yang sama sama dipinjam.
Rasa canggung itu perlahan cair lewat memasak dan makan bersama. Dari situ, Leisa dan istrinya, Sri, mulai berbagi kisah tentang putri mereka, Ruth, yang berusia tiga tahun dan meninggal saat tsunami. Mereka masih memanggil namanya di kebun dan bertemu dengannya dalam mimpi. Pada peringatan empat tahun tsunami, Irina ikut berjalan kaki berjam jam melintasi hutan dan sungai bersama warga menuju dusun lama, membersihkan makam massal tempat lebih dari 200 orang dimakamkan, lalu berdoa bersama.
Irina juga meminjam waktu warga. Rumah Leisa menjadi tempat berkumpul karena punya genset, dan percakapan berlangsung di antara suara mesin dan tayangan televisi, sampai genset dimatikan menjelang tengah malam untuk menghemat bahan bakar.
Kritik terhadap Cara Kita Menangani Relokasi
Dari pengalaman ini, Irina melontarkan kritik tajam. Label umum seperti “masyarakat berisiko” yang harus dipindahkan dari zona merah ke zona aman menutupi kerumitan kehidupan warga. Relokasi yang terburu buru dan diputuskan dari atas justru menciptakan kerentanan dan bencana baru. Permukiman relokasi menjadi rumah dalam arti bangunan, tetapi bukan rumah dalam arti tempat pulang. Tidak ada kebun, tidak ada akses ke laut sebagai sumber pangan, tidak ada kepastian tanah. Kehilangan rasa memiliki ini mudah berubah menjadi kemarahan, frustrasi, dan kecemasan.
Ia juga menyoroti sikap sebagian petugas pendamping, konsultan, dan peneliti yang datang, menyelesaikan tugas, lalu pergi. Ada yang membawa peralatan makan sendiri dan menjaga jarak dari warga. Menurut Irina, jarak ini membuat pihak luar sulit memahami persoalan dengan empati, sehingga yang ditawarkan hanya solusi sementara. Padahal, masalahnya akan berlangsung lintas generasi dan membutuhkan keterlibatan jangka panjang.
Pelajaran bagi Riset dan Kebijakan Pascabencana
Menulis kembali sepuluh tahun setelah penelitian lapangan membuat Irina melihat sesuatu yang dulu luput. Air hadir dalam dua wajah di Sabeugunggung: sebagai tsunami yang menghapus kampung, dan sebagai kelangkaan air bersih di permukiman baru.
Ia mengajak peneliti dan pengambil kebijakan untuk tidak tergesa gesa memperbaiki masalah, tetapi lebih dulu hadir, mendengar, dan menghargai proses. Lapangan penelitian bukan sekadar tempat mengambil data, melainkan tempat bertemunya sejarah kekerasan, perpindahan, dan kuasa. Pertanyaan pentingnya bukan hanya bagaimana membangun hunian baru, tetapi bagaimana memungkinkan penyintas memiliki rumah baru.
Rekannya, Neneng Shusilawati, kemudian melanjutkan keterlibatannya dengan membuat film dokumenter Repdeman bersama produser film profesional, untuk membawa suara warga Sabeugunggung ke hadapan pengambil keputusan.
Bagi Indonesia yang kini tengah menangani pemulihan pascabencana di berbagai daerah, termasuk Sumatera, kisah Sabeugunggung menjadi pengingat penting: relokasi yang aman di atas kertas belum tentu aman bagi kehidupan nyata orang yang dipindahkan.

Dr. Irina Rafliana adalah peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Saat ini ia menjalani riset pascadoktoral di Center for Life Ethics, University of Bonn, Jerman, melalui proyek SocialByNature dan SharedSeas, dengan fokus pada risiko dan tata kelola laut serta kerja sama lintas bidang ilmu dan masyarakat dalam menghasilkan pengetahuan.Ia menempuh riset doktoral di German Institute of Development and Sustainability (IDOS) dan University of Bonn, dengan kajian tentang sistem peringatan dini tsunami di Indonesia dari sudut pandang sosiologi pengetahuan serta kajian ilmu pengetahuan dan teknologi. Selama dua dekade terakhir, ia aktif di bidang komunikasi risiko, kajian risiko, aspek sosial sistem peringatan dini, dan pengurangan risiko bencana. Penelitian tesis magisternya dilakukan di Mentawai, tempat ia tinggal bersama para penyintas tsunami di permukiman relokasi pascabencana.

Leave a Reply