Catatan Lapangan #2: Ketika Dua Desa di Sawang Hilang Dihempas Banjir Bandang

Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, tim peneliti BRIN bersama tim Universitas Malikussaleh mengunjungi Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, salah satu wilayah yang dilanda banjir bandang pada 2025. Lahan yang kini dipenuhi semak dan tumbuhan baru dulunya adalah ruang hidup warga, tempat berdirinya rumah, masjid, dan kebun masyarakat.

Yang Hanyut Bukan Hanya Rumah

Dalam pertemuan dengan para penyintas, tim mendengar kisah tentang dua desa yang hilang diterjang banjir bandang. Yang lenyap bukan hanya bangunan dan harta benda. Foto keluarga, dokumen penting, kitab-kitab tua, kebun warisan orang tua, hingga halaman tempat anak anak bermain hilang dalam hitungan jam. Bagi warga, kehilangan desa berarti kehilangan sebagian identitas dan ingatan bersama.

Beberapa warga masih terdiam saat mengenang malam itu, ketika arus deras membawa batu, kayu, dan lumpur yang menghancurkan apa saja di jalurnya. Luka bencana ternyata tidak hanya tampak pada kerusakan fisik, tetapi juga tersimpan dalam ingatan.

Bencana karena Hutan yang Rusak

Hampir semua warga punya pandangan yang sama tentang penyebab bencana. Bagi mereka, banjir bandang bukan semata peristiwa alam. Penebangan hutan dan pembukaan lahan yang tidak terkendali di kawasan hulu telah menghilangkan kemampuan alam menahan laju air. Ketika alam dirusak, warga di hilirlah yang pertama menanggung akibatnya.

Karena itu, warga berharap negara tidak hanya hadir setelah bencana lewat bantuan dan rehabilitasi, tetapi juga sebelum bencana lewat perlindungan lingkungan, pengawasan yang tegas, dan pencegahan perusakan alam. Mereka menginginkan pembangunan yang tidak mengorbankan keselamatan warga.

Hunian Sementara yang Belum Adil dan Belum Layak

Persoalan yang paling sering dikeluhkan warga adalah hunian sementara (huntara) yang belum merata. Hampir setahun setelah bencana, masih ada keluarga yang tinggal di tenda darurat karena belum mendapat unit huntara.

Bagi yang sudah menempati huntara, masalah lain muncul. Sebagian besar bangunan tidak memiliki sekat ruang, sehingga orang tua dan anak tinggal dalam satu ruangan. Ketiadaan ruang pribadi menjadi persoalan serius, terutama bagi keluarga dengan anak perempuan yang mulai remaja. Pemulihan pascabencana tidak cukup hanya menyediakan atap, tetapi juga harus menjaga martabat, privasi, dan kesehatan jiwa keluarga.

Bencana Tidak Berakhir Saat Air Surut

Sejumlah warga mengakui bahwa bantuan yang datang tanpa program pemberdayaan bisa melemahkan semangat untuk membangun kembali mata pencaharian. Namun, kondisi ini tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada warga. Hilangnya kebun, ternak, dan aset usaha lain, ditambah terbatasnya peluang kerja, membuat bantuan menjadi tumpuan utama untuk bertahan hidup.

Dari Sawang, tim belajar bahwa dampak bencana terus hidup dalam ingatan warga, dalam keluarga yang masih tinggal di tenda, dalam huntara yang belum layak, dan dalam perjuangan panjang memulihkan penghidupan. Pemulihan pascabencana bukan sekadar membangun rumah, melainkan membangun kembali kehidupan yang aman, bermartabat, mandiri, dan selaras dengan alam, agar tragedi serupa tidak terulang.


Yumasdaleni PhD., adalah peneliti pada Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN. Saat ini menjadi ketua kelompok riset “Agama, Gender dan Kelompok Rentan”. Pendidikan Doktor dari Universiti Kebangsaan Malaysia bidang studi Antropologi dan Sosiologi, Pendidikan master dari Universitas Indonesia bidang studi Antropologi dan Sarjana di bidang Studi Agama di UIN Imam Bonjol. Minat kajian pada isu agama terkait isu perempuan, migrasi dan isu kelompok rentan lainnya termasuk isu kebencanaan.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *