Catatan Lapangan #1: Memulai Dengan FGD di Langsa

Perjalanan Menuju Langsa

Tim berangkat dari Jakarta menuju Medan, lalu melanjutkan perjalanan darat ke Kota Langsa dan tiba larut malam. Setelah koordinasi singkat, tim beristirahat untuk menyiapkan kegiatan keesokan harinya.

Diskusi Bersama Para Pihak di IAIN Langsa

Pada Jumat, 2 Oktober 2026, tim menggelar diskusi kelompok terarah (FGD) bersama sivitas akademika IAIN Langsa, tokoh masyarakat, dan warga yang mengalami langsung bencana banjir. Diskusi berjalan baik dan lancar berkat kemitraan yang sudah terjalin dengan IAIN Langsa. Pihak kampus membantu menghubungkan tim dengan narasumber yang tepat, sehingga tim FGD dapat dihadiri oleh informan dan para pihak yang diharapkan.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa kolaborasi riset bukan sekadar urusan administrasi. Kerja sama dengan kampus lokal membuat pengumpulan data lebih cepat, informasi lebih dalam, dan pemahaman konteks relatif lebih kuat.

Tahu Tentang Bencana, Belum Tentu Siap

Sedikit catatan dari hasil diskusi, menurut peserta wilayah Aceh Tamiang ini rawan banjir karena curah hujan tinggi dan kondisi daerah aliran sungainya. Dari diskusi dan wawancara, terlihat bahwa sebagian besar warga sudah memiliki pengetahuan tentang bencana. Namun, belum semua memahami cara mengurangi risiko, cara kerja peringatan dini, dan langkah kesiapsiagaan yang perlu dilakukan.

Banjir bandang akhir tahun 2025 yang lalu memperlihatkan kesenjangan itu dengan jelas. Banyak warga tidak memiliki rencana evakuasi keluarga, tidak tahu lokasi aman untuk berlindung, dan belum memahami bagaimana berkoordinasi dengan pemerintah dan lembaga penanggulangan bencana. Pengalaman menghadapi bencana ternyata belum otomatis berubah menjadi kesiapan dalam menghadapinya.

Literasi Bencana Lebih dari Sekadar Tahu Jalur Evakuasi

Peserta diskusi menegaskan bahwa literasi bencana tidak cukup diartikan sebagai kemampuan mengenali ancaman atau memahami prosedur evakuasi. Literasi bencana juga mencakup kemampuan mendapatkan informasi yang benar, memahami peran berbagai lembaga kebencanaan, dan membangun budaya siaga di tingkat keluarga dan komunitas. Peserta juga mendorong agar pendidikan kebencanaan masuk ke dalam kegiatan belajar mengajar dan pengabdian masyarakat di kampus.

Kampus sebagai Simpul Penghubung

Dua hari pertama ini menggarisbawahi bahwa upaya membangun literasi bencana perlu bergeser dari sekadar merespons bencana menuju pencegahan dan kesiapan jangka panjang. Perguruan tinggi dapat berperan sebagai simpul yang menghubungkan pemerintah, masyarakat, dan peneliti, sekaligus menghasilkan data dan rekomendasi kebijakan bagi masyarakat yang lebih tangguh.

Seperti yang ditunjukkan banjir bandang tahun lalu, bencana tidak bisa dihadapi oleh satu pihak saja. Dibutuhkan perpaduan antara pengetahuan akademik, pengalaman warga, dan jejaring kelembagaan yang kuat.

Pada Jumat malam, tim bergerak ke Lhokseumawe untuk melanjutkan kegiatan di Kabupaten Aceh Utara, dimulai dengan kunjungan ke lokasi terdampak bencana pada Sabtu, 3 Oktober 2026 (to be continued)


Tim peneliti OR IPSH BRIN memulai kegiatan lapangan riset literasi kebencanaan di Aceh pada 1 Oktober 2026. Tim terdiri atas Yumasdaleni, S.Ag., M.Si., Ph.D., Dr. Shiyamu Manurung, M.A., dan Ramadoni, S.Pd., M.Pd., Ph.D. dari BRIN, bersama Dr. Amiruddin, M.A. dari IAIN Langsa dan Dr. Teuku Kemal Fasya, M.Hum. dari Universitas Malikussaleh. Dua hari pertama dipusatkan di Kota Langsa untuk menggali situasi terkini di Aceh Tamiang.

Tulisan terkait: https://azzawiy.id/peneliti-brin-gelar-fgd-kebencanaan-di-aceh/


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *