Rabu, 16 September 2026, menjadi momen penting dalam perjalanan Task Force Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Sumatra BRIN, khususnya bagi tim Ilmu Sosial Humaniora. Dalam momen ini, secara simbolik kegiatan Task Force PRR “resmi” dimulai. Meskipun, tidak berarti bahwa baru kali ini BRIN turun ke lapangan. Justru, sejak peristiwa Banjir Bandang pada November 2025 yang lalu, melalui Task Force Tanggap Darurat, BRIN juga telah turut terjun membantu penyintas bencana Sumatra melalui teknologi Air Siap Minum (Arsinum) hingga pemetaan daerah terdampak yang menjadi data pendukung bagi BNPB maupun Kementerian dan Lembaga lainnya.

Kegiatan Kick Off Meeting ini dilakukan untuk mengkoordinasikan kembali berbagai pemangku kepentingan rehabilitasi dan rekonstruksi, termasuk dua belas (12) bidang yang ada di Task Force PRR BRIN. Dengan dukungan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), kegiatan ini dapat dilakukan. Tak hanya itu, dalam kick off meeting yang dihadiri langsung oleh Wakil Kepala BRIN, PPN/Bappenas, BNPB dan Kemendagri (Posko Satgasnas), seluruh peserta juga mendapatkan “kuliah” dan motivasi langsung dari Wakil Presiden RI ke 10 dan 12 RI, Bapak H. M. Jusuf Kalla. Pengalaman beliau yang sangat panjang dalam penanganan bencana, bahkan hingga kini masih aktif menjadi Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), turut memberikan semangat kepada tim dan peserta kegiatan. Berkali-kali beliau mengingatkan bahwa kecepatan adalah kunci penting dalam penanganan bencana, baik sejak tanggap darurat maupun rehabilitasi dan rekonstruksi.

Selain narasumber lintas pemangku kepentingan, hadir juga dalam kegiatan kick off meeting ini mitra-mitra riset maupun pemberdayaan masyarakat BRIN lainnya, seperti Forum Zakat, LAZ Nurul Hayat, Dassa Corp, Kapal Api Group, Asosiasi Pengusaha Bahan Bangunan, hingga Persatuan Saudagar Muslimah Indonesia (Persami) yang juga turut hadir dengan beberapa UMKM binaannya. Setelah makan siang dan Ishoma, para peserta mendengarkan para koordinator Task Force PRR BRIN menyampaikan berbagai inovasi dan rencana kegiatan mereka di lapangan nanti. Total peserta dalam kegiatan ini lebih dari 200 orang dari berbagai latar belakang, termasuk mitra-mitra perguruan tinggi di Aceh. Tindak lanjut dari kegiatan ini adalah percepatan tim untuk intervensi lapangan, khususnya dalam upaya pemulihan (build back better) dan memperkuat resiliensi penyintas bencana melalui berbagai program pemberdayaan dan riset aksi lainnya.

Tentu saja ini hanya bagian kecil dari upaya besar yang dibutuhkan oleh Bangsa ini dalam setiap peristiwa bencana. Kita masih memiliki banyak pekerjaan rumah dan lebih banyak lagi keberpihakan terhadap penanganan bencana yang niscaya terus terjadi di negeri kita tercinta ini. Dengan penguatan kapasitas di berbagai lini, dukungan lintas stakeholders, kecepatan dalam administrasi hingga political will yang terus berpihak, diharapkan kemampuan adaptasi kita terhadap berbagai potensi dan resiko bencana akan semakin baik dan meningkat di masa mendatang.


Leave a Reply