“Tolong kami dibina sampai betul-betul stabil. Jangan lepas kami!”
Kalimat di atas diucapkan seorang ibu penggerak usaha di Gampong Dayah Husen, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya, kepada tim pendamping dari Universitas Syiah Kuala (USK). Sebut saja namanya Bu Ani.
Sejak awal 2026, tim USK yang berlatar konseling dan psikologi mendampingi ibu-ibu Dayah Husen bangkit setelah banjir bandang. Kami, tim peneliti BRIN bersama Forum Zakat, datang untuk bersilaturahmi dan belajar sebelum memulai program pemberdayaan perempuan di desa yang sama.
Tekad Warga Untuk Bangkit dan Mandiri
Banjir bandang yang menerjang Pidie Jaya pada 26 November 2025 merusak lebih dari 8.800 rumah. Di sejumlah titik, lumpur menumpuk hingga dua meter. Dayah Husen, desa petani dan peternak di tepi Krueng Meureudu, sempat terisolir sekitar dua minggu. Rumah, sawah, dan ternak warga ikut tersapu.
Sebulan setelah bencana, tim USK masuk ke desa dengan menumpang kendaraan polisi karena jalan masih tertutup lumpur. Mereka membagikan bantuan sambil menjalankan program psikososial. Para ibu menjadi yang pertama mencurahkan isi hati. Namun di tengah tangis itu, muncul kalimat yang tidak diduga: “Masa untuk jajan anak saja kami harus menunggu bantuan orang? Kami ingin punya penghasilan sendiri.”
Bencana pun belum benar-benar usai. Banjir susulan datang lagi pada 24 Desember 2025 dan 14 Februari 2026. Tim USK menuturkan satu momen yang membuat kami tertegun.
Saat mahasiswa KKN tinggal di desa, air sempat naik tiga kali, salah satunya tengah malam. Pada kali pertama, warga menangis dan tim ikut panik. Pada kali kedua dan ketiga, warga sudah tenang. Mereka menjadikan meunasah, yang letaknya sedikit lebih tinggi, sebagai penanda. Selama air belum menyentuh meunasah, mereka bertahan.
Kejadian kecil ini menunjukkan bahwa warga punya cara sendiri untuk membaca bahaya di lingkungan sekitarnya.
Keripik Tempe Sebagai Produk “Pancingan”
Dari kunjungan pertama itu, tim USK pulang tanpa gambaran solusi, hanya dengan janji untuk berusaha membantu. Jalan itu terbuka lewat hibah pengabdian BIMA. Dari situ lahir usaha keripik tempe bermerek Krap krup Tempe di Meunasah Dayah Husen.

Alasannya membumi. Orang Aceh terbiasa makan nasi dengan kerupuk, “kalau tidak ada ikan atau sayur pun tidak apa-apa.” Harganya pun terjangkau, mulai Rp10.000 per 100 gram. Brownies diajarkan sebagai usaha pendamping, tetapi tidak berkembang karena bahannya mahal, sementara pembeli ingin yang enak dan murah.
Bantuan yang diberikan kepada warga berupa kompor, lemari fermentasi dan penyimpanan, meja pengeringan, mesin pengupas kulit kedelai, wajan, oven, serta bahan baku produksi awal. Tim sengaja menyebutnya “pancingan”, yakni modal awal agar ibu-ibu bisa melanjutkan sendiri. Selain proses pendampingan psikososial, mahasiswa KKN tinggal 22 hari di desa dan membantu mendesain kemasan serta logo. Sesudahnya, pendampingan berlanjut secara daring.
Awalnya peminat pelatihan tersebut tidak banyak. Namun begitu usaha mulai menghasilkan keuntungan dan pendapatan, warga lain pun ikut tertarik. Pesanan mulai datang, termasuk dari tamu-tamu yang berkunjung ke desa.
Ketika Usaha Bersama Diuji
Usaha pengolahan keripik tempe tersebut masih berjalan sampai sekarang, tetapi tidak mulus. Kendala terbesarnya ternyata bukan resep atau alat, melainkan pembagian hasil. Ibu-ibu yang mengiris dan menggoreng merasa merekalah yang bekerja. Kerja Bu Ani mencari pembeli, mempromosikan produk, dan menyusun laporan tidak terlihat dan hanya digaji “sukarela”.
Tim USK juga menemukan pola yang berulang. “Kalau kami datang, ibu-ibu rajin bekerja. Tapi itu bertahan kira-kira seminggu,” tutur mereka. Mutu produk ikut naik-turun karena ada kelompok yang mengubah takaran resep, dan penjualan bergantung pada satu orang yang aktif berjualan daring.
Di Pidie Jaya, perayaan bulan Maulid bisa berlangsung hampir tiga bulan. Warga bergiliran membantu kenduri di desa-desa tetangga, karena yang diharapkan bukan sumbangan uang, melainkan kehadiran. Selama musim itu, wajan keripik tempe ikut beristirahat alias berhenti berproduksi.
Bagi orang luar, berhentinya produksi mudah dibaca sebagai kurangnya komitmen. Padahal ikatan sosial seperti inilah yang menjadi jaring pengaman warga saat bencana datang. Usaha yang ingin bertahan perlu menyesuaikan diri dengan kalender sosial desa, bukan sebaliknya.
Tim USK tidak menyerah. Mereka membagi tugas dengan lebih jelas, menegaskan bahwa alat produksi adalah milik desa, dan kini merancang cara kerja baru. Anggota kelompok akan dibayar sebagai pekerja, sementara pengelolaan dan penjualan dipegang bersama tim. Sebagian keuntungan dicita-citakan masuk ke kas desa.
Perempuan di Garis Depan
Sebagai konselor, tim USK membaca persoalan ini lebih dalam. Pertolongan pertama psikologis biasanya diberikan pada bulan pertama setelah bencana. Namun di Pidie Jaya banjir datang berulang, sampai suara air pun memicu ketakutan. Hampir setahun berlalu, urusan rumah mulai tertangani, tetapi penghidupan belum pulih, keberlanjutan ekonomi juga belum stabil.
Di Dayah Husen, perempuan adalah pelaku utama di sawah, sedangkan laki-laki bekerja di bengkel las, membuat parang, atau beternak. Ketika alat dan ternak hanyut, banyak bapak kehilangan pegangan dan lebih sering duduk di warung kopi. Beban keluarga pun bergeser lebih banyak ke pundak perempuan.
Di saat yang sama, seorang perangkat desa berkata kepada tim, “Janganlah ibu-ibu terus yang dibantu. Kami juga mau.” Kalimat itu mengingatkan kami bahwa pemberdayaan perempuan tidak terjadi di ruang hampa. Program untuk perempuan perlu dirancang tanpa menyalakan kecemburuan baru di rumah dan di desa.
Siapa yang Memegang Kendali?
Diskusi ini mengubah cara kami memandang dan membaca ulang makna keberhasilan. Bagi kami, pemberdayaan tahap pertama mungkin memang sesederhana menambah pendapatan. Kemandirian penuh adalah tahap kedua, yang datang setelah warga merasakan hasilnya. Satu kelompok yang benar-benar berjalan bisa menjadi contoh dan menimbulkan efek bola salju.
Hasil ini pun menjadi masukan yang sangat berharga. Rencana awalnya, Gampong Meunasah Mancang akan menjadi desa pembanding dengan intervensi yang sama. Namun tim USK mengingatkan bahwa mengajarkan keripik tempe di desa tetangga bisa memicu konflik baru. Pilihan lainnya adalah produk yang berbeda, dengan syarat ada komitmen dari warga.
Pada akhirnya, kendali atas usaha ini harus kembali ke tangan warga. Peran pendamping adalah menjaga dan menopang sampai mereka siap. Oleh karena itu, langkah yang paling masuk akal bagi kami bukanlah membawa program baru dengan nama baru, melainkan menyambung apa yang sudah dirintis tim USK sambil terus belajar dari warga.

Terimakasih kepada Tim USK, Unit Pelayanan Psikologi dan Konseling (PPK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Terimakasih atas sambutan hangat, kesediaan berbagi pengalaman lapangan, dan keterbukaan untuk berkolaborasi dalam Upaya pemberdayaan Perempuan di Pidie Jaya.
*Permintaan “jangan lepas kami” bukanlah tanda ketergantungan. Ia adalah pengakuan bahwa bangkit setelah bencana butuh waktu, kepercayaan, dan pendamping yang setia. Tugas kami bukan datang membawa program baru, melainkan menyambung tangan yang sudah lebih dulu terulur.

Resti Pujihasvuty adalah peneliti pada kelompok riset Dinamika Keluarga di Pusat Riset Kependudukan BRIN. Fokus riset dan kajian meliputi dinamika kependudukan dan keluarga, ketahanan dan kesejahteraan keluarga, serta isu demografi sosial dalam perspektif siklus hidup. Dalam konteks kebencanaan, fokus riset berkaitan dengan isu kerentanan penduduk dan keluarga serta penguatan resiliensi dalam pemulihan bencana. Email: rest017@brin.go.id

Leave a Reply