Catatan Lapangan #12: Ongkos yang Ikut Pulang

Pasar darurat terbentuk di titik tempat perjalanan harus berhenti. Dalam wawancara di Bireuen, kami mendengar bagaimana barang diangkut sampai ke lokasi yang masih dapat dijangkau. Barang dikumpulkan di sana sebelum diteruskan melalui jalur berikutnya. Jembatan yang terputus memecah perjalanan menjadi beberapa tahap. Pengangkutan membutuhkan lebih banyak tangan dan waktu yang lebih panjang.

Warga menyusun kembali peredaran kebutuhan melalui jalur yang tersedia. Di sekitar akses yang rusak, muncul pembagian kerja untuk menyambungkan perjalanan. Ada yang membawa barang hingga ke penyeberangan. Pengangkut berikutnya mengambil alih dari sana. Kehidupan sehari-hari ditopang oleh rangkaian pekerjaan yang bertambah panjang sejak bencana.

“Karena enggak semua orang sanggup.”

Penuturan seorang narasumber di Bireuen tentang kesulitan melewati jalur alternatif.

Kata sanggup tertinggal dalam pikiran saya. Dalam konteks penyeberangan, kesanggupan berhubungan dengan kemampuan tubuh dan keterampilan menghadapi medan. Ketika ditarik ke dalam kehidupan rumah tangga, maknanya meluas. Perjalanan membutuhkan biaya. Orang juga harus menyisihkan waktu atau mencari seseorang yang dapat membantu.

Konektivitas mempunyai syarat sosial. Keberadaan jalur membuka kemungkinan bergerak, sementara kemampuan memanfaatkannya mengikuti pembagian sumber daya dalam masyarakat. Orang yang mempunyai kendaraan lebih leluasa mengatur perjalanan. Dukungan keluarga atau kenalan dapat membantu mengatasi kesulitan di sepanjang jalan. Bagi rumah tangga dengan sumber daya terbatas, perubahan kecil dalam perjalanan dapat menuntut penyesuaian besar dalam keseharian.

Di sinilah berlangsung stratifikasi mobilitas. Orang menempuh ruang yang sama dengan kemampuan menanggung hambatan yang berbeda. Tambahan ongkos dapat diserap sebagai pengeluaran usaha oleh pedagang yang mempunyai cadangan modal. Pada pekerja harian, waktu menunggu dapat mengambil kesempatan memperoleh penghasilan. Perjalanan menjadi lebih rumit bagi keluarga yang harus mengatur pendampingan untuk anggota yang membutuhkan perawatan.

Dok. Penulis (Oktober, 2026)

Kami belum mengukur besarnya beban pada masing-masing kelompok. Cerita tentang antrean dan pengangkutan bertahap memberi petunjuk mengenai mekanismenya: gangguan infrastruktur bertemu dengan ketimpangan yang sudah hidup di tengah masyarakat. Bencana dapat memperlebar perbedaan antara mereka yang masih mempunyai ruang untuk menyesuaikan diri dan mereka yang harus mengurangi kebutuhan lain agar perjalanan tetap mungkin dilakukan.

Antrean memperlihatkan dimensi ketimpangan yang jarang masuk dalam perhitungan, yakni penguasaan atas waktu. Tidak semua orang mempunyai keleluasaan untuk menunggu. Waktu yang tertahan di perjalanan dapat mengurangi penghasilan hari itu. Urusan perawatan keluarga pun harus diatur ulang. Kesempatan menyerahkan pekerjaan kepada orang lain memberikan kelonggaran yang sulit diperoleh mereka yang harus mengerjakan semuanya sendiri.

Dari sudut pandang politik ekologi, pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana biaya kerusakan terserap ke dalam kehidupan rumah tangga. Selama infrastruktur diperbaiki, warga mengeluarkan sumber daya tambahan agar kehidupan tetap berlangsung. Beban itu tersebar di banyak keluarga. Jumlahnya mungkin kecil dalam perhitungan proyek, tetapi dapat berarti besar bagi rumah tangga yang harus menanggungnya berulang kali.

Di balik kelancaran yang perlahan kembali, terdapat kerja sosial untuk menjaga kehidupan. Barang dibawa melalui jalur alternatif dan pekerjaan rumah tangga disesuaikan dengan perjalanan yang semakin sulit. Inilah kerja reproduksi sosial yang sering luput dari perhatian. Orang harus tetap makan dan merawat keluarganya agar dapat menjalani hari berikutnya. Kerusakan jembatan menambah tuntutan terhadap kerja tersebut ketika dukungan yang tersedia masih terbatas.

Pasar darurat memperlihatkan kecakapan warga membangun sambungan ekonomi dalam keadaan sulit. Kemampuan beradaptasi itu patut dihargai bersama pengorbanan yang menyertainya. Ketangguhan mempunyai ongkos dan batas. Pujian terhadap ketangguhan dapat menutupi keduanya apabila kesulitan warga dianggap selalu dapat diselesaikan melalui usaha mereka sendiri.

Pemulihan konektivitas di Bireuen terus bergerak. Pemerintah Aceh melaporkan bahwa Jembatan Krueng Tingkeum di Kecamatan Kutablang kembali beroperasi pada 20 September 2026. Sebelumnya, pengguna jalur nasional Banda Aceh–Medan mengandalkan jembatan Bailey dengan sistem buka-tutup yang pada waktu tertentu menimbulkan antrean. Beroperasinya jembatan permanen merupakan capaian penting bagi mobilitas masyarakat dan distribusi barang.

Dok. Penulis (Oktober, 2026)

Cerita yang kami dengar pada Oktober menengok kembali masa ketika akses terganggu. Pengalaman tersebut membantu membedakan pulihnya hubungan antarwilayah dan pulihnya kemampuan warga menjalani kehidupan. Keduanya saling bergantung, dengan proses yang dapat berlangsung pada kecepatan berbeda. Jalur yang kembali terbuka menyediakan kesempatan untuk bergerak. Keadaan rumah tangga menentukan seberapa jauh kesempatan itu dapat digunakan.

Bagi saya, pasar darurat meninggalkan pelajaran tentang ketimpangan yang bekerja melalui hal-hal yang tampak biasa. Orang yang berhasil sampai ke tujuan dapat membawa pulang sisa penghasilan yang berbeda. Perjalanan yang selesai juga dapat menyisakan kelelahan dan pekerjaan yang tertunda. Semua itu menjadi bagian dari pengalaman pemulihan yang sulit dibaca hanya dari keadaan jalan.

Jembatan yang tersambung memperbesar kemungkinan warga mengatur hidupnya kembali. Manfaatnya terasa sampai ke rumah ketika perjalanan menjadi lebih ringan untuk dijalani. Perjalanan terasa pulih ketika ongkos untuk bergerak tidak lagi menggerus kemampuan untuk hidup.


Bacaan pendukung: Tim Cresswell, “Towards a Politics of Mobility” (2010); Jesse C. Ribot dan Nancy Lee Peluso, “A Theory of Access” (2003); serta laporan MC Provinsi Aceh melalui InfoPublik mengenai beroperasinya kembali Jembatan Krueng Tingkeum, 21 September 2026.


Handoyo adalah peneliti di Pusat Riset Kependudukan BRIN. Fokus kajiannya meliputi hubungan masyarakat dan lingkungan, politik ekologi, serta produksi pengetahuan dalam kebijakan publik dengan pendekatan sosiologi dan antropologi lingkungan. Dalam konteks kebencanaan, risetnya menelaah kerentanan sosial, ketimpangan akses terhadap sumber daya, serta hubungan antara tata kelola lingkungan dan pemulihan penghidupan masyarakat. Email: handoyo@brin.go.id


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *