Catatan Lapangan #13: Perempuan-Perempuan Tangguh Dayah Husen

“Lima hari lima malam kami tidak makan, tapi rasanya kenyang juga.”

Kalimat itu diucapkan pelan oleh seorang ibu di Gampong Dayah Husen, Pidie Jaya. Sebut saja namanya Bu Ela. Sehari setelah berdiskusi dengan tim USK di Banda Aceh, kami duduk bersama ibu-ibu warga di desa ini. Kami datang dengan pertanyaan tentang kondisi ekonomi dan kegiatan usaha. Namun sebelum sampai ke sana, mereka lebih dulu menceritakan malam ketika semuanya berubah.

Malam Ketika Rumah Panggung Pun Kalah

Warga Dayah Husen sudah terbiasa dengan banjir. Setiap tahun air sungai naik, lalu surut lagi. Malam itu hujan turun tanpa henti sejak magrib. Sekitar pukul dua dini hari, kayu-kayu gelondongan datang menghantam rumah Bu Ela yang hanya berjarak sekitar lima meter dari sungai.

Rumahnya rumah panggung bertiang delapan belas, kokoh dan tinggi. Tetapi malam itu rumah panggung pun kalah. Bu Ela tidak bisa berenang, dan tangan suaminya baru saja dioperasi.

Atap seng berputar dan menjepit tubuhnya di bawah pohon belimbing depan rumah. Kakinya di atas, kepalanya di bawah. Setiap kali mencoba bernapas, yang masuk adalah air lumpur. Suaminya terseret arus sejauh 450 meter, lalu berenang kembali dan berteriak minta tolong sepanjang malam. Baru pukul tiga sore keesokan harinya, tetangga dan adik iparnya berhasil menggergaji kayu yang menjepitnya.

Lima hari kemudian, Bu Ela dievakuasi dengan keranda karena tak bisa berjalan. Orang-orang di sepanjang jalan bertanya, siapa yang meninggal. Di rumah sakit, ia hanya mengenakan pakaian yang sudah koyak. Butuh tujuh belas kali tusukan sebelum jarum infus berhasil terpasang.

Kami tidak sanggup berkata banyak setelah mendengarnya. Yang bisa kami lakukan hanya berterima kasih karena ia masih ada di antara kami, dan meminta maaf karena telah membuka kembali luka lama.

Satu Orang, Satu Piring

Bagi ibu-ibu yang lain, hari-hari sesudah banjir juga berat. Selama sekitar dua bulan, satu-satunya jalan keluar desa adalah berjalan kaki sejauh dua kilometer, menyeberangi air dan kayu dengan berpegangan pada tali. Banjir susulan datang berkali-kali, menurut warga hingga delapan kali, sampai Januari. Lumpur setinggi satu sampai dua meter di dalam rumah hanya bisa dibersihkan dengan alat berat.

Warga tinggal di tenda dan memasak bersama di dapur umum untuk lebih dari seratus orang. Ada satu cerita kecil yang terus terngiang di kepala kami.

Setiap orang mendapat jatah satu piring. Piring itu harus dijaga baik-baik dan tidak boleh hilang, selama dua bulan mereka makan di dapur umum.

Yang paling menyedihkan bagi para ibu justru bukan kehilangan harta, melainkan anak-anak. “Anak-anak tidak mengerti musibah. Yang mereka tahu cuma minta uang jajan,” tutur seorang ibu. Ada bayi yang butuh susu, tetapi gas tidak ada. Ketika gas datang, uang yang tidak ada. Meminjam pun tidak mungkin, karena semua orang sama-sama kesusahan.

Perempuan yang Terus Memutar Otak

Sebelum banjir, ekonomi rumah tangga di desa ini bersandar pada sawah. Hanya tiga warga yang bekerja sebagai pegawai. Uang jajan anak didapat para ibu dari menjual cokelat, melinjo, dan pinang kepada pengepul yang datang setiap pagi. Kini sawah belum bisa ditanami. Sepeda motor yang dulu ada dua di satu rumah kini tinggal satu, itu pun rusak. Para bapak banyak yang menganggur.

Di tengah keadaan itu, seorang ibu menceritakan bagaimana hari-hari mereka berjalan.

Pagi-pagi, sebelum matahari tinggi, para ibu sudah mengumpulkan melinjo atau pinang yang tersisa setelah bencana besar itu, lalu menjualnya kepada pengepul yang datang berkeliling. Hasilnya tak seberapa, sekadar cukup untuk jajan anak hari itu. Anak-anak yang biasa diantar ke sekolah dengan motor kini tak mau berjalan kaki, padahal motornya sudah rusak dan uang tak ada. Ayahnya pun di rumah, karena tak ada lagi pekerjaan. “Jadi mamanya yang berputar otak,” katanya.

Kalimat terakhir itu merangkum perjuangan perempuan di desa ini setelah bencana. Mereka tidak punya pilihan untuk diam. Selama dapur harus mengepul dan anak harus jajan, para ibu terus mencari jalan, sekecil apa pun jalannya.

Selama ini, bantuan yang datang kebanyakan berupa uang tunai dan sembako. Pendampingan khusus untuk perempuan baru datang dari tim USK, yang mengajarkan pembuatan keripik tempe. Para ibu menyebut kedatangan tim itu seperti “secercah harapan”. Belakangan, lembaga zakat dan mitra lain ikut membantu modal dan peralatan.

Usaha Kecil yang Memberi Harapan

Usaha keripik tempe itu masih berjalan, meski tidak setiap hari. Awalnya ada tiga kelompok, satu per dusun. Kini tinggal dua kelompok, masing-masing dengan sekitar lima anggota aktif. Sebagian ibu mundur karena harus mengantar anak sekolah, mengurus rumah yang belum pulih, atau menghadiri kenduri.

IIbu-ibu sedang memproduksi keripik tempe di Dayah Husen

Pesanan datang dari warga, rumah sakit, kantor, bahkan dari Jakarta. Menjelang Lebaran pesanan mencapai hampir 50 kilogram, dan para ibu justru kewalahan. Proses pembuatannya butuh tiga hari, mulai dari merebus kedelai sampai menggoreng, sehingga mereka hanya bisa bekerja berdasarkan pesanan. Keuntungannya tipis.

Yang menarik, persoalan terbesar mereka bukan teknik produksi, melainkan aturan main. Belum ada kesepakatan tertulis tentang pembagian hasil. Mereka juga sempat berselisih ketika ibu-ibu yang dulu menolak ikut pelatihan, tiba-tiba ingin bergabung setelah melihat usaha ini menghasilkan. Ada pula pesanan 10 kilogram yang gagal dipenuhi karena seorang anggota tidak menjalankan bagiannya.

Ketika kami bertanya pembagian seperti apa yang adil, jawabannya sederhana: “Harus musyawarah.” Mereka tidak meminta aturan dari luar. Mereka ingin aturan yang disepakati bersama.

Di akhir diskusi, kami bertanya apa yang ingin mereka pelajari. Jawabannya beragam: pelatihan berjualan lewat media sosial, cara mengelola usaha, dan olahan baru seperti kue kering berbahan emping melinjo. Ada juga kue boi, kue berbentuk ikan yang biasa menjadi hantaran dalam pesta dan kenduri. Para ibu sebenarnya sudah pandai membuatnya, hanya alatnya yang belum ada.

Kami juga belajar dari hal-hal kecil. Mesin pengupas kedelai sudah tersedia, tetapi para ibu memilih mengupas dengan tangan. Alasannya bukan malas, melainkan karena mereka belum yakin hasil mesin itu cukup bersih. Bagi mereka, rasa dan kepercayaan pembeli lebih penting daripada kecepatan.

Perempuan-perempuan tangguh dari Dayah Husen

Refleksi: Ketangguhan yang Tak Tercatat

Dalam laporan bencana, kisah Bu Ela mungkin hanya menjadi satu angka di kolom korban luka. Cerita satu orang, satu piring tidak tercatat dalam data distribusi bantuan. Begitu pula kerja para ibu yang memutar otak agar anak tetap bisa jajan. Padahal di situlah ketangguhan itu bekerja, diam-diam dan setiap hari.

Kami juga melihat bahwa solidaritas warga telah menyelamatkan nyawa. Tetangga yang menggergaji kayu, adik ipar yang tak menyerah, dan dapur umum tempat semua orang makan bersama adalah jaring pengaman pertama, jauh sebelum bantuan dari luar tiba.

Pemberdayaan perempuan di wilayah bencana tidak bisa dimulai dari modul usaha. Ia dimulai dari kesediaan mendengar luka, menghormati cara warga bertahan, dan memberi ruang bagi mereka untuk menyusun aturan mainnya sendiri. Usaha yang kecil tetapi terus berjalan jauh lebih berarti daripada program besar yang berhenti di tengah jalan.

Para ibu Dayah Husen tidak meminta dikasihani. Mereka meminta didengar, didampingi, dan dipercaya untuk bangkit dengan cara mereka sendiri.


Ucapan terima kasih

Kami mengucapkan terima kasih kepada ibu-ibu warga Gampong Dayah Husen yang telah menerima kami dengan hangat dan bersedia berbagi kisah, termasuk kisah yang tidak mudah untuk diceritakan kembali.


Resti Pujihasvuty adalah peneliti pada kelompok riset Dinamika Keluarga di Pusat Riset Kependudukan BRIN. Fokus riset dan kajian meliputi dinamika kependudukan dan keluarga, ketahanan dan kesejahteraan keluarga, serta isu demografi sosial dalam perspektif siklus hidup. Dalam konteks kebencanaan, fokus riset berkaitan dengan isu kerentanan penduduk dan keluarga serta penguatan resiliensi dalam pemulihan bencana. Email: rest017@brin.go.id


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *