Melalui tulisan ini saya sharing catatan reflektif perjalanan fieldwork kami menuju ke Gampong Dayah Usen (kadang ditulis Dayah Husen) dan Gampong Meunasah Mancang Kecamatan Meurah Dua Pidie Jaya Aceh, pada tanggal 21–22 Oktober 2026, untuk melakukan focus group discussion (FGD) dengan masyarakat setempat.
Kedua gampong tersebut lokasinya bersebelahan, kami secara purposif memilihnya karena berdasarkan data dan informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya, bahwa Gampong Dayah Usen dan Gampong Meunasah Mancang merupakan dua gampong yang terdampak parah akibat banjir bandang pada November 2025 yang lalu.
Jika selama ini saya melihat kondisi fisik bencana Aceh melalui pemberitaan di TV ataupun media sosial, kali ini saya bisa menyaksikan secara langsung kondisi pascabencana di dua gampong tersebut. Saat ini, akses jalan utama di dua gampong tersebut memang telah dapat dilalui kendaraan tetapi di beberapa titik permukaan jalan tidak rata karena adanya endapan lumpur.
Sudah hampir satu tahun, bekas endapan lumpur juga masih menyisakan jejak garis-kecokelatan di dinding-dinding rumah-rumah warga, setinggi kira-kira 2–3 meter yang artinya waktu itu lumpur menenggelamkan sebagian besar rumah-rumah warga. Bahkan gundukan endapan lumpur tebal saat ini juga masih tampak di tengah permukiman warga.
Jujur saja, saya bisa merasakan bagaimana dahsyatnya banjir bandang menerjang kawasan permukiman masyarakat Gampong Dayah Usen dan Gampong Meunasah Mancang pada waktu itu.

Areal persawahan, ladang, dan kebun–yang menjadi tulang punggung penghidupan warga–juga masih tertimbun lumpur tebal pekat yang telah mengeras “kami sudah tidak tanam [padi dan jagung] lagi, bagaimana tanam jika sawah ladang masih tertutup lumpur keras tebal”–demikian diungkapkan dengan intonasi “ketangguhan” oleh seorang petani-muda yang terdampak di Gampong Dayah Usen. Saya menangkap kesan bahwa daya juang luar biasa dari seorang petani-muda tersebut untuk segera bangkit pulih memulai musim tanam kembali secara optimal meskipun saluran-saluran irigasi juga belum beroperasi karena masih tertutup sedimen lumpur.
Secara umum masyarakat Gampong Dayah Usen dan Gampong Meunasah Mancang yang terdampak hingga kini merasa roda ekonomi warga lokal masih mati total meskipun kedua wilayah tersebut sudah dalam fase rekonstruksi dan rehabilitasi. Saya mencatatnya bahwa bencana banjir bandang di Aceh tidak hanya telah merusak bangunan fisik tetapi juga menghilangkan penghidupan/livelihood masyarakat setempat. Hilangnya livelihood ini sering kali luput dari perhatian kita, manakala status tanggap darurat bencana berakhir.
Dalam upaya pemulihan pascabencana, di Gampong Dayah Usen tampak aktivitas pembangunan meunasah baru yang diinisiasi oleh Universitas Syiah Kuala (USK). Ya, meunasah baru ini dibangun persis di samping meunasah lama, karena meunasah lama rusak cukup parah, bahkan lantai dasarnya sudah terisi penuh oleh sedimen lumpur dan tidak memungkinkan untuk dikeruk.
Bagi saya, pembangunan meunasah baru ini menjadi penanda simbolik pentingnya ruang komunal warga, sebagai “hub ketahanan sosial-ekonomi” warga. Di Aceh, meunasah bukan sekadar tempat ritual keagamaan, melainkan juga sarana berkumpul warga, bertukar informasi, melakukan musyawarah, dan sebagai tempat berlindung bersama dalam satu atap meunasah. Sebagaimana yang dinyatakan oleh informan di Gampong Meunasah Mancang:
“Waktu banjir bandang kemarin, ini [meunasah] satu-satunya yang tidak terendam, pak! karena ini tinggi, bentuk panggung. Meunasah ini jadi tempat mengungsi semua warga gampong [Meunasah Mancang]. Meunasah multifungsi, pak! Bisa untuk ibadah, shalat, mengaji, berkumpul, dan musyawarah pertemuan warga”.
Keberadaan meunasah di Gampong Dayah Usen dan Gampong Meunasah Mancang, dalam konteks riset aksi pemberdayaan, menyadarkan kita arti penting sebuah ruang kebersamaan, di meunasah kita duduk bersama masyarakat, kita bermusyawarah. Masyarakat sebagai subjek aktif untuk merancang program/kegiatan yang produktif, bergotong royong sesuai dengan kemampuan dan kearifan lokal yang ada di masyarakat.

Temuan awal dari hasil observasi dan FGD menunjukkan bahwa karakteristik sosio-spasial Gampong Dayah Usen maupun Gampong Meunasah Mancang cenderung memiliki kemiripan. Salah satu permasalahan yang menjadi fokus bahasan masyarakat di kedua gampong tersebut adalah bagaimana pengerukan serta pembuangan endapan lumpur yang masih tersisa di rumah-rumah warga, di jalanan, di areal persawahan, ladang, dan kebun.
Masyarakat secara terbuka mengungkapkan alternatif solusi bersama diantaranya adalah bahwa masyarakat akan bergotong royong mengeruk mengatasi endapan lumpur, selanjutnya masyarakat juga yang akan mengolahnya menjadi produk bata ringan sehingga bisa dimanfaatkan untuk renovasi/pembangunan rumah-rumah warga dan fasilitas publik yang terdampak banjir.
Proses produksi bata ringan ini tentu memerlukan pelatihan dan pendampingan dari para ahli. Dengan kata lain, dalam konteks rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana, gotong royong (modal sosial) masyarakat lokal perlu diperkuat melalui dukungan material peralatan, keterampilan, dan kelembagaan, bukan diperlakukan sebagai pengganti tanggung jawab pemerintah.
*Meunasah adalah bangunan khas di setiap gampong (desa) di Aceh yang berfungsi sebagai pusat kegiatan ibadah, sosial, pendidikan, dan adat.

Rahmat Saleh adalah peneliti pada kelompok riset Sains Data dan Kesejahteraan Penduduk di Pusat Riset Kependudukan BRIN. Ia meraih gelar Sarjana (2012) dan Magister (2023) Sosiologi di Universitas Indonesia. Riset yang diminatinya di bidang sosiologi pembangunan, sosiologi organisasi, demografi sosial, dan pemberdayaan komunitas/masyarakat. Email: rahm033@brin.go.id

Leave a Reply