Perjalanan saya ke Aceh memberikan pengalaman yang berbeda dalam memahami hakikat penelitian dan kehidupan manusia. Saya datang dengan tanggung jawab untuk mengumpulkan data, memahami kondisi masyarakat, serta menemukan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Namun, ketika berhadapan langsung dengan masyarakat yang mengalami bencana banjir, saya menyadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar data yang perlu dicatat. Di balik rumah-rumah yang rusak, lingkungan yang berubah, dan kehidupan yang terhenti, terdapat manusia yang sedang berjuang menemukan kembali harapan untuk melanjutkan perjalanan hidupnya.
Pengalaman itu mengingatkan saya bahwa manusia tidak dapat dipahami hanya melalui fakta-fakta yang terlihat. Ada kesedihan yang tidak seluruhnya terucapkan, ada kehilangan yang tidak dapat diukur dengan angka, dan ada harapan yang perlahan-lahan dibangun kembali di tengah keterbatasan.
Dalam keadaan demikian, penelitian seharusnya tidak menjadikan manusia sekadar sumber informasi, tetapi menghadirkan ruang untuk memahami pengalaman mereka dengan kesungguhan hati. Sebab, ilmu pengetahuan memperoleh makna yang lebih mendalam ketika tidak hanya membantu manusia mengetahui apa yang terjadi, tetapi juga mendorong manusia untuk peduli terhadap kehidupan yang sedang terluka.
Saya semakin memahami bahwa pengalaman bukanlah sesuatu yang berhenti ketika suatu peristiwa telah berlalu. Pengalaman merupakan jalan bagi manusia untuk melakukan refleksi, membangun kesadaran, menemukan hikmah, dan menerjemahkannya menjadi tindakan yang bermanfaat.
Bagi saya, perjalanan ke Aceh bukan hanya perjalanan untuk memperoleh data penelitian, melainkan juga perjalanan untuk membaca kembali hubungan manusia dengan dirinya, sesamanya, alam, dan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Di tengah masyarakat Aceh, saya menjumpai beragam cara dalam memaknai bencana. Ada yang menghubungkannya dengan kemerosotan moral manusia, ada yang melihatnya sebagai akibat ketidakadilan pemimpin dalam menjalankan amanah, dan ada pula yang menerimanya sebagai bagian dari ketentuan Tuhan.
Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan bahwa manusia berusaha memahami penderitaan melalui pengalaman keberagamaan dan pengetahuan yang dimilikinya. Namun, pengalaman itu sekaligus mengajak kita merenungkan satu pertanyaan penting: apakah cara kita memahami bencana telah membantu manusia menjadi lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan?
Saya meyakini bahwa keyakinan kepada Tuhan merupakan sumber kekuatan bagi manusia untuk menghadapi kesulitan. Akan tetapi, keyakinan tersebut perlu berjalan bersama kesediaan untuk belajar, memperbaiki diri, dan bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan. Kita tidak memiliki kewenangan untuk memastikan bahwa bencana tertentu merupakan hukuman Tuhan atas dosa seseorang atau suatu kelompok.
Penderitaan masyarakat seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghakimi mereka, melainkan menjadi panggilan bagi kita untuk memperkuat kepedulian dan membantu mereka menemukan jalan untuk bangkit.

Dalam perjalanan refleksi itu, saya teringat pada ungkapan seorang warga yang menggugah pikiran sekaligus perasaan: masyarakat diminta membaca doa tolak bala, tetapi pada saat yang sama terdapat kekhawatiran bahwa pihak-pihak yang memiliki kekuasaan justru membiarkan kerusakan alam melalui eksploitasi hutan dan penebangan pohon.
Ungkapan tersebut menyimpan kegelisahan moral yang mendalam. Ia bukan sekadar kritik terhadap kekuasaan, melainkan pertanyaan tentang kesesuaian antara nilai yang diajarkan dengan tindakan yang dijalankan.
Jika manusia memohon perlindungan Tuhan, tetapi pada saat yang sama mengabaikan tanggung jawab untuk menjaga alam, maka kita perlu merenungkan kembali makna doa dalam kehidupan. Doa bukan pengganti ikhtiar, sebagaimana keyakinan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghindari tanggung jawab.
Doa menguatkan batin, ilmu pengetahuan membantu memahami keadaan, dan kebijaksanaan mengarahkan manusia untuk bertindak dengan mempertimbangkan akibat perbuatannya. Adapun dugaan tentang kerusakan lingkungan sebagai penyebab atau faktor yang memperparah banjir tetap harus diperiksa melalui bukti ilmiah, bukan hanya berdasarkan prasangka atau penilaian moral.
Bagi saya, keberagamaan yang bijaksana tidak cukup terlihat dalam seberapa sering seseorang berbicara tentang Tuhan, tetapi juga dalam bagaimana ia memperlakukan kehidupan yang telah dipercayakan kepadanya. Kesalehan tidak hanya hadir dalam ritual, tetapi juga dalam keberanian menjaga amanah, menghindari tindakan yang merusak, melindungi sesama, dan mempertimbangkan keselamatan generasi mendatang.
Seorang pemimpin, misalnya, tidak cukup hanya mengajak masyarakat bersabar menghadapi bencana. Ia juga memiliki tanggung jawab moral dan kelembagaan untuk memastikan bahwa kebijakan pembangunan, pengelolaan hutan, dan tata ruang tidak mengabaikan keselamatan manusia.
Saya memandang alam sebagai sahabat perjalanan kehidupan, bukan semata-mata sebagai sumber daya yang dapat digunakan tanpa batas. Hutan, sungai, tanah, dan seluruh lingkungan yang menopang kehidupan bukan hanya bagian dari ruang tempat manusia mencari penghidupan. Semuanya berkaitan dengan keberlanjutan kehidupan manusia dan makhluk lainnya.
Ketika manusia kehilangan kesadaran tentang hubungan tersebut, pembangunan dapat berubah menjadi pengejaran keuntungan yang melupakan keseimbangan. Manusia mungkin memperoleh manfaat sesaat, tetapi generasi berikutnya berisiko menanggung akibat dari keputusan yang tidak bijaksana.
Karena itu, pengalaman bencana Aceh mengingatkan saya bahwa kemajuan tidak seharusnya hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau kemampuan manusia menguasai alam. Kemajuan juga harus diukur dari kemampuan manusia menjaga keseimbangan, memahami keterbatasannya, dan memastikan bahwa setiap keputusan tidak mengorbankan kehidupan pihak lain.
Dalam perjalanan menuju Tuhan, manusia tidak hanya membawa apa yang berhasil dikumpulkannya, tetapi juga nilai yang diwujudkannya melalui tindakan selama menjalani kehidupan.
Pengalaman ini turut memperdalam pemahaman saya tentang tanggung jawab seorang peneliti. Saya tidak ingin penelitian berhenti ketika data telah dianalisis dan laporan telah diselesaikan. Saya berharap pengetahuan yang diperoleh dari masyarakat dapat kembali kepada mereka dalam bentuk yang bermanfaat: penguatan literasi kebencanaan, pemulihan semangat hidup, pembelajaran tentang hubungan manusia dengan alam, serta rekomendasi kebijakan yang lebih memperhatikan keselamatan dan martabat masyarakat.
Peneliti memang tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi masyarakat, tetapi ia dapat ikut memastikan bahwa pengalaman mereka tidak hilang begitu saja dan bahwa pengetahuan yang dihasilkan membuka jalan menuju perbaikan.
Di sinilah saya menemukan makna kemanusiaan dalam penelitian. Ketika kita berhadapan dengan masyarakat yang sedang menderita, kita sesungguhnya sedang berhadapan dengan sebuah amanah. Data yang mereka berikan bukan sekadar bahan untuk memperkuat argumentasi ilmiah, melainkan bagian dari pengalaman kehidupan yang perlu dihormati.
Kepercayaan mereka kepada peneliti harus dijawab dengan tanggung jawab, kejujuran, dan kesungguhan untuk menghadirkan manfaat. Penelitian yang baik bukan hanya penelitian yang menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga penelitian yang tidak kehilangan kepekaan terhadap manusia yang menjadi bagian dari pengetahuan tersebut.
Pada akhirnya, perjalanan saya ke Aceh membawa saya pada sebuah kesadaran: manusia dapat mengetahui banyak hal tentang kehidupan, tetapi pengetahuan itu belum tentu menjadikannya bijaksana. Manusia dapat memahami ajaran agama, tetapi pemahaman itu belum tentu tercermin dalam perilakunya.
Manusia dapat memiliki kekuasaan untuk mengelola alam, tetapi kekuasaan itu belum tentu disertai kesadaran untuk menjaganya. Karena itu, perjalanan kehidupan menuntut lebih dari sekadar pengetahuan dan keyakinan; ia menuntut kesediaan untuk merefleksikan pengalaman, memperbaiki diri, dan menghadirkan kebaikan melalui tindakan nyata.
Saya kembali dari Aceh dengan membawa pemahaman bahwa bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan yang perlu diperbaiki, tetapi juga pertanyaan yang perlu dijawab bersama. Bagaimana kita membangun keberagamaan yang menguatkan kemanusiaan? Bagaimana kita menjalankan kekuasaan sebagai amanah, bukan kesempatan untuk memenuhi kepentingan diri?
Bagaimana kita mengembangkan ilmu pengetahuan yang tidak menjauhkan manusia dari nilai-nilai kehidupan? Dan bagaimana kita memastikan bahwa hubungan manusia dengan alam tetap terpelihara bagi generasi yang akan datang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab melalui kata-kata. Ia membutuhkan kesadaran yang tumbuh dalam diri, kebijaksanaan yang membimbing keputusan, dan amal yang memberikan manfaat bagi kehidupan.
Saya semakin memahami bahwa hakikat perjalanan manusia bukanlah tentang seberapa jauh ia melangkah, seberapa banyak pengetahuan yang dikumpulkan, atau seberapa tinggi kedudukan yang dicapai. Hakikat perjalanan itu terletak pada sejauh mana setiap pengalaman mengantarkannya menjadi manusia yang lebih sadar akan kehadiran Tuhan, lebih peka terhadap penderitaan sesama, lebih bijaksana dalam memperlakukan alam, dan lebih bertanggung jawab atas kehidupan yang dipercayakan kepadanya.
Sebab, pada akhirnya, ketika perjalanan pribadi ini berakhir dan manusia kembali kepada Tuhan, yang layak ditinggalkan bukanlah kebesaran dirinya, melainkan kebaikan yang dapat meneruskan perjalanan manusia lainnya.

Dr. Shiyamu Manurung, M.A. adalah peneliti pada Kelompok Riset Pendidikan Karakter dan Talenta Muda, Pusat Riset Pendidikan, Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sejak 2020. Lahir di Serdang Bedagai, Sumatera Utara, pada 1979, ia menempuh seluruh pendidikan tingginya di bidang dakwah dan pendidikan Islam di IAIN/UIN Sumatera Utara, dan meraih gelar doktor Pendidikan Islam pada 2015. Sebelum bergabung dengan BRIN, ia lama berkarier sebagai pengajar dan dosen di berbagai perguruan tinggi di Medan, serta menjadi peneliti di LP2M UIN Sumatera Utara dan Badan Litbang Kementerian Agama. Kajiannya berfokus pada pendidikan karakter, pendidikan keagamaan dan tata kelolanya, literasi budaya berbasis etnopedagogi pada anak usia dini, serta literasi kecerdasan artifisial bagi guru di wilayah perbatasan. Email: shiy001@brin.go.id

Leave a Reply