Perjalanan saya bersama teman-teman dari IAIN Langsa menuju sebuah jembatan yang putus akibat bencana banjir membawa saya pada pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Perjalanan ini bukan sekadar menyaksikan kerusakan infrastruktur akibat bencana, melainkan juga menyusuri kisah kehidupan manusia yang berubah dalam sekejap. Di balik derasnya arus sungai dan jembatan yang terputus, ada manusia-manusia yang sedang berjuang menyusun kembali kehidupan mereka yang telah tercerai-berai oleh bencana.
Untuk menyeberangi sungai, kami menaiki sebuah getek, alat penyeberangan sederhana yang terbuat dari dua sampan kayu yang disatukan, kemudian diberi susunan papan di atasnya agar dapat membawa sepeda motor, yang oleh masyarakat setempat disebut kereta. Getek itu menjadi penghubung bagi masyarakat yang harus menyeberangi sungai untuk bekerja, berjualan, bersekolah, dan memenuhi berbagai kebutuhan hidup lainnya.

Di atas getek itulah saya berbincang dengan seorang bapak, sebut saja namanya Ahmad, yang kini bekerja sebagai pengemudi penyeberangan. Percakapan kami berlangsung dalam suasana sederhana, menggunakan bahasa Melayu setempat. Namun, di balik kesederhanaan percakapan itu, tersimpan kisah kehidupan yang begitu dalam. Saya tidak hanya mendengarkan cerita tentang banjir, tetapi juga menyimak kisah seorang manusia yang kehilangan tempat tinggal dan harus memulai kembali kehidupannya dari keadaan yang jauh berbeda.
Pak Ahmad bercerita bahwa sebelum banjir terjadi, hujan yang turun pada awalnya tampak seperti hujan biasa. Namun, air yang mengalir dari kawasan pegunungan di bagian hulu terus berkumpul, hingga arus sungai menjadi semakin deras dan sulit dikendalikan. Ia menyaksikan rumah-rumah hanyut terbawa arus. Tidak lama kemudian, rumahnya sendiri yang berada di tepi sungai ikut terseret dan hilang ditelan derasnya air.
Bayangkan, sebuah rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berlindung, tempat keluarga berkumpul, tempat anak-anak tumbuh, dan tempat berbagai kenangan disimpan, tiba-tiba tidak lagi ada. Rumah itu bukan sekadar bangunan yang kehilangan bentuknya. Bersamanya, mungkin turut hanyut benda-benda berharga, kenangan keluarga, hasil jerih payah bertahun-tahun, serta rasa aman yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Bagi orang yang hanya menyaksikan banjir dari kejauhan, air mungkin sekadar bencana yang datang lalu surut. Namun, bagi mereka yang kehilangan rumah, ternak, dan sumber penghidupan, banjir tidak berhenti ketika air kembali surut. Bencana itu terus hidup dalam ingatan, dalam kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan dalam pertanyaan tentang bagaimana kehidupan harus dilanjutkan setelah semua yang dimiliki berubah atau hilang.
Sembari mengemudikan Getek, Pak Ahmad menceritakan bahwa sungai yang dahulu lebarnya diperkirakan hanya sekitar 20 hingga 30 meter kini telah melebar hingga beberapa kali lipat. Arus banjir telah mengubah bentang alam yang selama ini dikenal masyarakat. Hewan ternak pun hanyut terbawa air. Lingkungan tempat mereka menjalani kehidupan tidak lagi sama. Sungai yang dahulu menjadi bagian dari keseharian kini menyimpan trauma dan jejak kehilangan setiap kali diseberangi.
Di tengah perubahan itu, Pak Ahmad tidak berhenti berusaha. Bersama rekan-rekannya, ia kini mengoperasikan getek untuk membantu masyarakat menyeberangi sungai. Usaha sederhana itu dijalankan bersama tiga keluarga. Mereka berbagi pekerjaan dan menggantungkan penghidupan pada jasa penyeberangan yang dibutuhkan masyarakat.
Ia memperkirakan bahwa dalam sehari kegiatan penyeberangan dapat mencapai sekitar 60 kali perjalanan pulang-pergi. Angka itu membuat saya merenung. Di balik setiap perjalanan menyeberangi sungai, terdapat tenaga yang dikerahkan, risiko yang dihadapi, dan harapan agar keluarga di rumah tetap dapat makan serta menjalani kehidupan. Getek itu bukan sekadar alat transportasi. Ia telah menjadi sumber penghidupan bagi keluarga-keluarga yang sedang berusaha bangkit setelah kehilangan banyak hal akibat banjir.

Masyarakat yang menggunakan jasa penyeberangan umumnya memberikan uang secara sukarela, sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 untuk setiap penyeberangan. Ada yang hendak bekerja, ada yang pergi berjualan, dan ada pula anak-anak yang harus menempuh perjalanan untuk bersekolah. Saya menyaksikan bagaimana getek sederhana itu menjadi bagian penting dari keberlangsungan kehidupan masyarakat. Ketika akses terputus, mereka mencari jalan lain agar pekerjaan tetap berjalan, perdagangan tetap berlangsung, dan pendidikan anak-anak tidak sepenuhnya terhenti.
Di tengah percakapan, saya juga mengetahui bahwa pemerintah telah membangun sebuah jembatan kayu dengan lebar sekitar satu setengah meter. Jembatan itu dapat digunakan oleh masyarakat, tetapi hanya memungkinkan satu sepeda motor melintas pada satu waktu. Jika dua sepeda motor hendak berpapasan, salah satunya harus menunggu agar keduanya tidak bertemu di tengah jembatan.
Kondisi jembatan tersebut menuntut keberanian tersendiri. Sungai di bawahnya diperkirakan memiliki kedalaman sekitar delapan meter, sementara ketinggian jembatan dari permukaan air sekitar 15 meter. Bagi sebagian orang, melintasi jembatan kayu yang bergoyang mungkin terlihat sebagai perkara biasa. Namun, bagi masyarakat yang merasa takut terjatuh ke sungai, setiap langkah di atasnya menjadi pengalaman yang menegangkan. Tidak semua orang sanggup mengalahkan rasa takutnya, terlebih ketika harus membawa sepeda motor melintasi jembatan yang sempit dan tinggi.
Karena itulah, getek tetap menjadi pilihan bagi banyak warga. Saya melihat beberapa sepeda motor dinaikkan ke atasnya, dengan jumlah sekitar enam atau tujuh kendaraan dalam satu kali penyeberangan, sesuai perkiraan dari pengamatan di lapangan. Bagi masyarakat, menggunakan getek bukan semata-mata persoalan kenyamanan, melainkan juga pilihan untuk menghindari risiko yang mereka rasakan ketika melintasi jembatan kayu tersebut.

Mendengar kisah Pak Ahmad, saya menyadari bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup diukur dari seberapa cepat bantuan diberikan atau seberapa banyak bangunan didirikan kembali. Pemulihan juga harus dilihat dari kemampuan masyarakat untuk kembali menjalani kehidupan secara layak, memperoleh akses yang aman, mempertahankan sumber penghidupan, dan memastikan anak-anak mereka tetap dapat bersekolah.
Masyarakat setempat berharap agar jembatan yang terputus dapat diperbaiki kembali. Harapan itu bukan hanya milik satu atau dua orang, melainkan kebutuhan masyarakat dari dua kecamatan yang bergantung pada akses penyeberangan tersebut. Bagi mereka, jembatan bukan sekadar susunan besi, beton, atau kayu yang menghubungkan dua sisi sungai. Jembatan adalah penghubung antara rumah dan tempat kerja, antara keluarga dan sumber penghidupan, antara anak-anak dan sekolah, serta antara kehidupan yang terhambat oleh bencana dan masa depan yang ingin mereka bangun kembali.
Dari perjalanan singkat di atas getek itu, saya belajar bahwa bencana tidak hanya memutus jalan, tetapi juga dapat memutus kesinambungan kehidupan manusia
Ketika sebuah jembatan runtuh, yang terputus bukan hanya hubungan antara dua daratan. Ada kesempatan yang tertunda, tenaga yang harus dikeluarkan lebih besar, rasa aman yang berkurang, dan harapan yang setiap hari harus diperjuangkan kembali.
Namun, di tengah kehilangan itu, saya juga menyaksikan sesuatu yang tidak hanyut dibawa banjir: semangat manusia untuk bertahan. Bapak yang kehilangan rumahnya tidak menyerah pada keadaan. Ia tetap mengayuh kehidupan melalui getek yang sederhana. Bersama rekan-rekannya, ia berusaha agar keluarganya tetap dapat bertahan, sementara masyarakat yang lain tetap bisa bekerja, berjualan, dan bersekolah.
Di situlah saya menemukan makna kemanusiaan yang sesungguhnya. Manusia tidak selalu memiliki kekuatan untuk mencegah semua bencana, tetapi manusia memiliki tanggung jawab untuk saling membantu agar tidak seorang pun harus menghadapi penderitaannya sendirian. Kesulitan seseorang seharusnya menggerakkan kepedulian orang lain, dan penderitaan sebuah masyarakat seharusnya menjadi panggilan bagi hadirnya kebijakan yang lebih manusiawi.
Perjalanan ini juga mengingatkan saya bahwa memahami bencana tidak cukup hanya dengan menghitung curah hujan, mengukur lebar sungai, atau mencatat kerusakan bangunan. Kita perlu memahami bagaimana manusia hidup bersama alam, bagaimana perubahan lingkungan di kawasan hulu dapat memengaruhi masyarakat di hilir, bagaimana tata kelola wilayah dan perlindungan daerah resapan air dijalankan, serta bagaimana kesiapsiagaan masyarakat dibangun sebelum bencana terjadi. Pada saat yang sama, kita harus memastikan bahwa pemulihan pascabencana tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga menjangkau pemulihan kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, dan rasa aman masyarakat.
Saya meninggalkan penyeberangan itu dengan sebuah perenungan: jangan sampai kita lebih cepat menghitung kerugian akibat banjir daripada memahami penderitaan manusia yang mengalaminya.
Jangan sampai rehabilitasi dan rekonstruksi hanya terlihat dalam laporan dan angka, sementara masyarakat masih harus mempertaruhkan keselamatan untuk menyeberangi sungai, mencari nafkah, dan mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah.
Sebab, pada akhirnya, keberhasilan kita menghadapi bencana tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat jembatan dibangun kembali, tetapi juga oleh seberapa sungguh-sungguh kita memulihkan martabat kehidupan manusia.
Dan mungkin, di antara dua tepian sungai yang kini dipisahkan oleh derasnya sejarah bencana, terdapat sebuah pelajaran yang patut kita renungkan bersama bahwasanya jembatan yang paling penting bukan hanya jembatan yang menghubungkan dua daratan, melainkan juga jembatan kepedulian yang menghubungkan hati manusia dengan penderitaan sesamanya.

Dr. Shiyamu Manurung, M.A. adalah peneliti pada Kelompok Riset Pendidikan Karakter dan Talenta Muda, Pusat Riset Pendidikan, Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sejak 2020. Lahir di Serdang Bedagai, Sumatera Utara, pada 1979, ia menempuh seluruh pendidikan tingginya di bidang dakwah dan pendidikan Islam di IAIN/UIN Sumatera Utara, dan meraih gelar doktor Pendidikan Islam pada 2015. Sebelum bergabung dengan BRIN, ia lama berkarier sebagai pengajar dan dosen di berbagai perguruan tinggi di Medan, serta menjadi peneliti di LP2M UIN Sumatera Utara dan Badan Litbang Kementerian Agama. Kajiannya berfokus pada pendidikan karakter, pendidikan keagamaan dan tata kelolanya, literasi budaya berbasis etnopedagogi pada anak usia dini, serta literasi kecerdasan artifisial bagi guru di wilayah perbatasan. Email: shiy001@brin.go.id

Leave a Reply