Catatan Webinar #UpdateSumatera (10)

Kepala Pusat Riset Kependudukan BRIN sekaligus Ketua Bidang Perlindungan Sosial Taskforce Rehabilitasi dan Rekonstruksi BRIN, Dr. Ali Yansyah Abdurrahim, membuka diskusi refleksi lapangan Tim Literasi Kebencanaan pada Jumat, 16 Oktober 2026. Diskusi daring yang dipandu Yanu Endar Prasetyo, PhD (PI PRIS Kebencanaan OR IPSH) ini menghadirkan cerita tim peneliti BRIN, yaitu Yumasdaleni, Dr. Shiyamu Manurung, M.A., dan Ramadoni. Mereka baru kembali dari Aceh Utara dan Aceh Tamiang, dua wilayah yang terdampak parah banjir bandang Sumatera hampir setahun lalu.

Dalam pengantarnya, Ali Yansyah menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup dengan membangun kembali jalan dan rumah. Manusia, komunitas, dan sumber penghidupan harus menjadi pusat pemulihan. Peneliti juga perlu melihat secara kritis siapa yang bisa bangkit lebih cepat dan siapa yang tertinggal.

Yang Hilang Bukan Hanya Rumah

Di Kecamatan Sawang, Aceh Utara, dua desa hanyut dan benar benar hilang. Rumah, kebun, masjid, dan ruang berkumpul warga lenyap. Dokumen penting seperti buku nikah ikut musnah, sementara kantor KUA yang seharusnya mengurusnya juga hanyut. Akibatnya, urusan administrasi warga masih tersendat sampai sekarang.

Selain itu, banyak penyintas langsung menangis sebelum wawancara dimulai. Dalam situasi seperti itu, tim memilih menghentikan wawancara dan menghormati keinginan penyintas yang tidak ingin membuka kembali lukanya. Warga juga kerap bertanya apa manfaat penelitian bagi mereka. Pertanyaan ini menjadi pengingat bahwa riset tidak boleh berhenti sebagai laporan. Salah satu tindak lanjut nyata sudah berjalan, yaitu bantuan instalasi air siap minum (Arsinum) dari BRIN untuk Aceh Utara, sesuai kebutuhan yang disampaikan BPBD setempat.

Tafsir Agama dan Akar Masalah di Hulu

Dr. Shiyamu Manurung menemukan tiga cara warga memaknai bencana. Ada yang melihatnya sebagai akibat kemerosotan moral, ada yang menilainya sebagai buah kezaliman pemimpin, dan ada pula yang menerimanya sebagai takdir. Seorang warga bahkan menyindir bahwa masyarakat disuruh berdoa tolak bala, sementara penguasa justru membuat bala. Sindiran ini merujuk pada kerusakan di hulu: hutan gundul di Bener Meriah, perluasan kebun sawit, ratusan truk pengangkut batu dan pasir setiap hari, serta kayu gelondongan besar yang hanyut bersama banjir.

Prof. Subarudi dan Dr. Irina Rafliana menambahkan bahwa literasi masyarakat saja tidak cukup jika akar masalahnya ada pada izin pengelolaan hutan dan peran industri. Menurut tim, isu ini penting namun sangat politis, sehingga perlu dibahas di tingkat kebijakan yang lebih tinggi.

Tim juga mencatat kearifan lama yang mulai ditinggalkan. Dulu orang Aceh membangun rumah bertiang karena paham wilayahnya rawan banjir, dan anak anak diajari mengenal sungai serta pandai berenang. Kini rumah beton dan pola pikir perkotaan membuat pengetahuan itu memudar.

Kedai Kopi dan Jejaring Sosial

Ramadoni menyoroti dua hal yang sering terlupakan. Pertama, penghulu dan penyuluh agama adalah orang yang paling dekat dengan warga, namun jarang dilibatkan dalam penanganan bencana. Kedua, kedai kopi justru menjadi tempat yang paling cepat pulih. Di sana warga bermusyawarah, berbagi informasi, dan saling menguatkan. Banyak persoalan yang tidak selesai lewat kantor justru selesai di kedai kopi. Tempat ini bisa menjadi ruang pelatihan dan pemulihan warga.

Kekuatan jejaring juga terlihat dari kerja sama dengan kampus lokal seperti Universitas Malikussaleh dan UIN Langsa. Berkat kepercayaan yang sudah lama terbangun, survei yang menargetkan seribu responden berhasil menjaring lebih dari 3.000 responden, sebagian besar guru dan pelajar.

Ekonomi Warga Masih Tertatih

Pasar dan pertokoan di Kuala Simpang sudah kembali ramai, tetapi pertanian masih terpukul. Pohon pinang banyak yang mati dan sawah tertimbun lumpur. Sebagian petani beralih menanam jagung dan kedelai. Ada pula yang bekerja serabutan dengan penghasilan sekitar Rp30.000 per hari, atau menjadi pengemudi perahu penyeberangan yang hasilnya dibagi untuk beberapa keluarga.

Langkah ke Depan

Tim akan menyusun model literasi bencana dalam tiga modul: untuk masyarakat, untuk sekolah, dan untuk pengambil kebijakan. Modul ini akan dipakai juga di kabupaten lain, termasuk dalam program pemberdayaan di Pidie Jaya dan Bireuen. Diskusi juga mempertemukan tim dengan mitra baru dari Universitas Almuslim Bireuen.

Di akhir diskusi, Dr. Shiyamu Manurung menitipkan pesan bagi tim yang akan turun ke lapangan: belajarlah mendengar, masuklah ke kedai kopi, masjid, dan dayah, serta rendahkan sedikit logika ilmiah dan tinggikan kemanusiaan. Pelajaran terbesar dari Aceh adalah ketangguhan tidak hanya dibangun dengan beton, tetapi juga oleh ingatan warga, nilai agama, rasa saling percaya, dan hubungan manusia dengan alam.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *