Dalam rangkaian Australia Awards Short Course “Social Protection and Community Empowerment: Strengthening Indonesia’s Pathways to Inclusive and Resilient Growth”, peserta berkunjung ke City of Newcastle, Australia (23/9/26). Dalam kunjungan ini, Wade Berryman, Emergency Management Coordinator, dan Jared Pichler, Enterprise Risk Manager, memaparkan bagaimana pemerintah kota mengelola keadaan darurat dan risiko bencana.
Apa Itu Manajemen Darurat?
Manajemen darurat dijelaskan sebagai upaya mengorganisasi orang, sumber daya, dan tindakan untuk menghadapi situasi darurat. Cakupannya meliputi pencegahan atau pengurangan dampak sebelum kejadian, respons saat kejadian untuk melindungi nyawa, harta benda, dan lingkungan, serta membantu masyarakat pulih dan kembali normal setelahnya.
Hierarki Manajemen Darurat di New South Wales
Sistem manajemen darurat di negara bagian New South Wales (NSW) berpijak pada State Emergency and Rescue Management Act 1989 (SERM Act) di bawah Menteri Layanan Darurat. Strukturnya berjenjang dari tingkat negara bagian, regional, hingga lokal, dengan tiga jalur yang berjalan paralel.
Jalur pertama adalah komite manajemen darurat, mulai dari State Emergency Management Committee, Regional Emergency Management Committee, hingga Local Emergency Management Committee. Jalur kedua adalah dukungan eksekutif, yaitu Emergency Management Branch di Premier’s Department, Kepolisian NSW melalui kantor manajemen darurat regional, dan pemerintah daerah melalui kantor manajemen darurat lokal. Jalur ketiga adalah struktur penyelamatan, mulai dari State Rescue Board hingga komite penyelamatan regional dan lokal.
Dari struktur ini terlihat bahwa pemerintah daerah memegang peran nyata dalam sistem, bukan sekadar pelaksana di ujung rantai komando.
Combat Agency dan Area Fungsional
SERM Act mengenal istilah combat agency, yaitu lembaga yang ditetapkan dalam rencana manajemen darurat (EMPLAN) sebagai penanggung jawab utama pengendalian respons terhadap jenis darurat tertentu. Lembaga ini antara lain Fire and Rescue NSW, Kepolisian NSW, NSW Rural Fire Service, NSW Health, NSW State Emergency Service, Port Authority of NSW, Maritime NSW, Departemen Industri Primer dan Regional, Departemen Perubahan Iklim, Energi, Lingkungan dan Air, NSW Food Authority, serta NSW Environment Protection Authority.
Selain itu, terdapat area fungsional, yaitu kategori layanan yang terlibat dalam pencegahan, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan. Area ini mencakup layanan teknik, lingkungan, kesehatan, transportasi, kesejahteraan sosial, pertanian dan hewan, energi dan utilitas, informasi publik, pendidikan, serta telekomunikasi. Pembagian ini membuat setiap sektor jelas perannya ketika bencana terjadi.
Struktur Manajemen Darurat di City of Newcastle
Di tingkat kota, tanggung jawab manajemen darurat mengalir dari Chief Executive Officer, Executive Director Corporate Services, Executive Manager Legal and Governance, hingga Enterprise Risk Manager. Di bawahnya terdapat Emergency Management Coordinator yang berperan sebagai Local Emergency Management Officer (LEMO), dibantu petugas jaga manajemen darurat serta Risk and Resilience Advisor sebagai LEMO pengganti.
Pusat Operasi Darurat dan Tingkat Aktivasinya
Salah satu perangkat penting adalah Emergency Operations Centre (EOC), yaitu pusat lintas lembaga untuk komunikasi dan koordinasi operasi serta dukungan selama keadaan darurat. EOC berfungsi memantau operasi, mengoordinasikan dukungan bagi combat agency, menilai kebutuhan operasional, mengomunikasikan informasi antarlembaga, menyampaikan peringatan dan informasi kepada masyarakat, serta mengendalikan operasi darurat bila tidak ada combat agency yang ditunjuk atau bila diminta.
EOC memiliki empat tingkat aktivasi. Status putih berarti pemantauan, ketika fasilitas digunakan seperti biasa, misalnya untuk rapat dan pelatihan. Status kuning berarti siaga, dengan kesiapsiagaan yang ditingkatkan. Status merah berarti operasional, ketika staf dan sumber daya EOC dikerahkan penuh untuk memantau, mendukung, atau mengendalikan kegiatan darurat. Status hijau berarti penghentian, yaitu proses mengembalikan pusat ke kondisi normal.
Manajemen Risiko Organisasi
Jared Pichler kemudian menjelaskan kaitan manajemen risiko organisasi dengan manajemen darurat. Kota Newcastle terpapar sejumlah ancaman, yaitu banjir dari sungai, anak sungai, dan banjir bandang, badai dengan angin kencang, petir, dan hujan lebat, kebakaran lahan, gempa bumi, tanah longsor sebagai dampak lanjutan hujan lebat, serta tsunami.
Pemerintah kota memiliki dua fokus risiko utama: menjaga layanan penting tetap berjalan saat darurat, yang disebut ketangguhan organisasi, dan mendukung layanan darurat melalui EOC. Tujuannya adalah meminimalkan dampak terhadap layanan pemerintah kota, memenuhi kewajiban hukum seperti penyediaan EOC, serta mendukung layanan darurat lokal dan berkomunikasi dengan masyarakat.
Kesiapsiagaan bencana ditetapkan sebagai risiko strategis, karena pemerintah kota menyediakan layanan penting bagi warga seperti pengangkutan sampah serta infrastruktur jalan dan drainase. Risiko ini dirumuskan sebagai kegagalan merencanakan dan merespons bencana sehingga dampaknya terhadap operasional kota dan masyarakat tidak dapat ditekan. Melalui peta panas risiko, ditunjukkan bahwa risiko bawaan yang semula berada di tingkat ekstrem dapat diturunkan menjadi risiko sisa di tingkat sedang berkat berbagai langkah pengendalian.
Pelajaran bagi Indonesia
Paparan ini memperlihatkan bahwa kekuatan sistem manajemen darurat di NSW terletak pada kejelasan pembagian peran. Setiap jenis darurat memiliki lembaga penanggung jawab, setiap sektor memiliki fungsi, dan pemerintah daerah memiliki struktur, pusat operasi, serta status aktivasi yang terukur. Bagi Indonesia, pendekatan ini relevan untuk memperkuat peran pemerintah kabupaten dan kota, khususnya dalam menjaga layanan dasar bagi warga tetap berjalan saat dan setelah bencana.

Leave a Reply